Sabtu, 18 Oktober 2014

Stand By Me

Diposting oleh zahra natasya di 06.44 0 komentar
            Tidak adakah didunia ini yang dinamakan ‘ketenangan’, maksudku bukan mati juga?!. Setiap jam, menit, bahkan detik detik selalu muncul masalah. Adakah yang bisa menolongku yang di kelilingi masalah setiap saat?.
            Hidup tanpa kedua orangtua dan saudara membuat aku tertekan sebelumnya. Kecelakaan yang melibatkanku dan keluarga beberapa tahun yang lalu, tapi disaat semua sudah tiada kenapa aku malah terselamatkan?. Bukan hanya itu, entah persetanan macam apa yang dilakukan pamanku yang menyebabkan seluruh perusahaan ayah bangkrut total sehingga harus mengganti seluruh biaya perhutangan. Rumah sudah di sita serta apa yang ada didalamnya, membuatku harus mencari tempat berteduh.
            Kaos putih tipis pemberian ibu dulu adalah satu-satunya yang dapat menjadi tameng saat udara dingin selalu menyapa malam hari. Semua saudaraku sudah aku datangi sebelumnya tapi mereka semua tak merasa belas kasihan terhadapku. Jadi benar dugaanku sebelumnya mereka semua hanya memakai topeng saat oarangtuaku masih ada tapi sekarang mereka semua mulai membuka topengnya secara perlahan.
            Tubuhku mulai mengering menyisakan tulang terbungkus kulit kusam. Makan?, aku sudah makan dari hasil berburu di tempat sampah dekat restorant yang dulu aku sering kunjungi. Semua pekerjaan sudah aku coba tapi hasilnya selalu ditendang keluar.
            Bunuh diri?, pernah hampir aku lakukan setidaknya sebelum seorang laki-laki berjas menghentikanku. Laki-laki itu tampak sebaya dengaku tapi mungkin dia lebih tua beberapa bulan dariku.
            Saat aku dibawanya menuju mobil pikiran pertamaku hanyalah ‘ APA AKU GILA?! DENGAN MUDAHNYA MENGIKUTI PERINTAH ORANG YANG BELUM KU KENAL!’. Laki-laki itu memberikanku sebuah selimut tebal. Awalnya aku bingung sampai laki-laki tersebut mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku tenang.
            “ Pakailah, aku ini orang baik” katanya. Aku langsung menyelimuti tubuhku dengan selimut. Perlahan-lahan mataku mulai menutup sedikit demi sedikit menyisakan jalan menuju mimpi indah.
            “ Anak sialan pergi dari rumahku!” teriak perempuan paruh baya dengan dandanan menornya. Aku hanya menghela nafas ketika adik dari ayahku dengan senang hati mengusirku dengan cara menendang perutku.
            “ Tapi, aku harus tinggal dimana?” tanyaku dengan muka memelas. Namun, hasilnya nihil dia hanya menatapku remeh, tanganya di ulurkan kedalam saku rok lipit yang dia kenakan. Beberapa lembar uang yang semula tersimpan rapi di sakunya kini berpindah ke tanganya.
            “ Nih, kurasa ini lebih dari yang kau butuhkan” katanya sambil melempar uang kearahku disusul dengan tutupan pintu apartementnya.
            Kupungut beberapa lembar uang tersebut dan menyimpanya di saku celana. Saat aku mulai memasuki lift tiba-tiba seorang paman yang tampak mabuk menghampiriku. Dia merancau tidak jelas membuatku risih. Paman tersebut memojokanku dan dia ingin menciumku. Tapi untungnya sebelum kejadian itu pintu lift terbuka dengan sekuat tenaga kujauhkan tubuhnya dari hadapanku dan langsung berlari menjauh darinya. BRUK.
            Mataku langsung membuka seketika. Kepalaku pusing bukan main-main. Pandangan yang pertama ku pertajam adalah sebuah televisi yang ada di depanku. Tanganku mencoba memukul alas yang aku tiduri namun yang mengejutkan alas yang kupakai tidur ini empuk.
            Pintu kamar terbuka dan menampilkan laki-laki yang menolongnya tadi. Laki-lai tersebut membawa nampan berisi beberapa macarons dan segelas susu cokelat panas. Dia duduk di tepi ranjang nampan berisi makanan tersebut di letakkan di meja nakas di sebelah ranjang.
            “ Perkenalkan namaku Shebaco Toineiller kau bisa memanggilku Sheb” katanya memperkenalkan diri. Aku tak menanggapinya malah kepalaku menunduk dan pusing ini semakin menjalar.
            “ Bolehkah aku tahu siapa namamu?” tanya lagi. Suaranya begitu lembut bagaikan melodi di kotak music. Aku mengadahkan kepala untuk melihat rupawanya. Wajah laki-laki tersebut sangatlah damai.
            “ Na-namaku Ellizabeth” jawabku lemah. Sheb memberikanku segelas cokelat panas. “ Minumlah” perintahnya. Kuteguk langsung semua cairan didalamnya hingga tak tersisa apapun. Kubersihkan sisa-sisa noda susu cokelat di pinggiran bibir dengan punggu tanganku.
            Sebh terkekeh geli melihat tingkahku. Dia merongoh saku celananya untuk mengeluarkan sapu tangan berwarna blue sky. Tangannya terulur membersihkan punggung tanganku. Awalnya aku kaget tapi akhirnya aku berterimakasih kepadanya dengan senyuman.
            Sekarang aku tinggal di panti asuhan milik keluarganya. Sebh selalu berusaha membuatku terhibur. Bahkan setiap hari dia selalu bercerita sehabis dia pulang sekolah walaupun hanya aku tanggapi dengan perkataan singkat. Kadang dia mengajariku tentang beberapa pelajaran yang ada di sekolah. Mulai saat itu aku mulai merasakan kebahagian sedikit demi sedikit.
            Yah itulah sepenggal masa laluku yang kuingat. Hari ini tepat lima tahun ulang tahun pernikahanku bersama Sebh diadakan dengan cara sederhana. Haya ada aku, Sebh dan kedua putri kita Victoria dan Elve berserta album foto yang selalu menyimpan moment-moment kami. Sebh pernah bilang ketika dia melamarku bahwa tidak ada orang yang bisa berdiri sendiri dia butuh penyangga dikala susah yaitu aku. Selama ini Sebh berusaha menjadi penyangga tubuhku ketika aku bersedih. Aku sangat terharu pada saat itu, sampai-sampai air mataku jatuh membentuk anak sungai di kedua pipiku.
            “ Terimakasih kau sudah menemaniku sampai saat ini” kataku. Sebh yang dari tadi sibuk dengan anak-anak menoleh kearahku sambil tersenyum lembut. Tanganya mengusap pipiku.

            “ Your welcome, and please stand by me for happiness forever after”

Kamis, 16 Oktober 2014

Crazy Dreams Come True chap7

Diposting oleh zahra natasya di 06.03 0 komentar
PERHATIAN:
Maaf jika ada kesalahan kata di chap ini.
Dilarang mencopy cerita ini!.
Not Real Story
#setanalasdeath

Min Ri dan So Jung masih menampilkan wajah shocknya. Mereka berdua masih setia memandangi sebuah bangunan kuno yang dikatakan sekolah itu. Banyak murid-murid yang berlalu lalang memandangi mereka berdua dengan tatapan heran. Yup, sekarang adalah hari dimana mereka mewakili sekolah untuk rapat di Seoul Art High School.
            “ Chogiyo, apa kalian perwakilan dari Soul Internasional High School?” tanya yeoja berbehel dan berkacamata besar. “ Annyeonghaseo Jessica imnida” lanjutnya sambil membungkukan badan.
            “ Ne, annyeonghaseo Min Ri imnida” jawab Min Ri dan di lanjutkan dengan perkenalan So Jung.  Yoon Jung mengantarkan mereka berdua ke ruang kepala sekolah. Di sepanjang lorong mereka bertiga atau tepatnya hanya So Jung dan Min Ri yang menjadi pusat perhatian. So Jung merasa risih akan tatapan tersebut.
            “ Min Ri-ah aku takut” bisik So Jung bersamaan sambil mengeratkan gengamanya. Min Ri menolehkan kepalanya ke kanan untuk melihat wajah So Jung. Dia hanya terkekeh melihat wajah So Jung.
            “ Seharusnya yang menemanimu itu Hwang Joong bukan aku” katanya. So Jung mendongakkan kepalanya kemudia menggeleng. “ Jika Hwang Joong yang menemaniku bisa-bisa kabur dan meninggalkanku sendiri ” jawab So Jung.
            “ Jessica-ssi!” teriak seseorang di belakang mereka. Reflek So Jung dan Min Ri memutar badanya dan seketika mata Min Ri membulat sempurna. Di hadapanya sekarang berdiri seorang namja berkacamata yang dia temui beberapa hari yang lalu.
            “ Jessica-ssi ini laporan keuanggan bulan Oktober” kata namja berkacamata itu sambil tersenyum. Jessica menerima beberapa lembar kertas dan menganalisinya. Namja tersebut mengalihkan pandanganya menuju dua yeoja dengan tampang cengo yang tidak jauh darinya.
            “ Kau kan yang pernah menabrakku?” kata namja tersebut sambil menunjuk Min Ri.
            “ Yaaa! Kau menyalahkanku?” teriak Min Ri sampai So Jung yang berada di sebelahnya harus menutup kedua telingannya. “ Min Ri-ah jangan berteriak di telingaku” protes So Jung.
            “ Mian, kau kenapa ada di sini?” tanya Min Ri. Namja tersebut hanya membalas dengan senyuman. “ Yaaa! Jawab pertanyaanku!” lanjutnya.
            “ Noona, seharusnya kau ijinkan aku memperkenalkan diri, lagi pula ini sekolahku jadi patutu aku disini dan seharunya aku yang bertanya kepadamu kenapa kau kesini” terangnya.
            “ Aku kesini untuk menghadiri rapat” jawab Min Ri.
            “ Mmm, bolehkah aku tahu siapa namamu?” tanya So Jung. Namja tersebut hanya mengaggukan kepalanya.
            “ Annyeonghaseo Tae Hyung imnida” kata namja tersebut.
            “ Annyeong Tae Hyung-ssi. So Jung imnida” jawab So Jung.
            “ Annyeong So Jung-ssi senang berekalan denganmu, kalau begitu aku pergi dulu ya, bye!”.
>< 
            Se Young masih mengerjakan tugas yang di berikan Park-seonsaengnim, sesekali dia menghela nafas. Di mejanya banyak buku-buku yang berserakan. Tangannya tak berhenti untuk menulis beribu kata di bukunya. Bel istirahat sudah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu tapi dia masih enggan meninggalkan bangkunya.
Cess.
            Se Young terlonjak dan menolehkan kepalanya. Sebuah kaleng soda dingin berhasil menempel di pipi kananya. Di sebelahnya kini berdiri Hwang Joong yang tangan kananya terlulur untuk memberikan salah satu kaleng soda yang dia bawa dan di terima oleh Se Young.
            “ Kau harus beristirahat” saran Hwang Joong.
            “ Gomawo” jawab Se Young sambil membuka kaleng soda tersebut dan meneguknya sampai setengah kaleng. “ Tugas ini terlalu banyak jadi aku harus menyelesaikan kurang lebih setengahnya lalu aku lanjutkan di rumah”.
            “ Kau terlalu rajin” sahut Hwang Joong. Se Young hanya terkehkeh sambil menggelengkan kepala. “ Setidaknya aku berusaha sendiri dan tidak memaksa anak kelas sebelah untuk mengerjakanya” balas Se Young. Yeoja yang dari tadi meneguk isi kaleng sodanya menghentikan aktivitasnya dan menatap temanya yang sedang memasang wajah tanpa dosa.
            Pintu kelas tiba-tiba terbuka dan menampilkan seorang yeoja pendek yang sedang terengah-engah. Yeoja tersebut menghampiri Se Young dan Hwang Joong dan menduduki dirinya di salah satu kursi.
            “ Hwang Joong-ah ke-kenapa kau kabur!” teriak yeoja tersebut yang di ketahui bernama Sae Na.
            “ Aku tak mau pakai pakaian laknat tersebut” jawab Hwang Joong santai. Dia kembali memikirkan baju dengan rompi berwarna pink mencolok dengan pita yang berwarna senada dengan rompinya itu tampak menjijikan.
            “ Tapi itu bagus, lagi pula bukan hanya kau saja yang pakai semua yang bertugas dalam kegiatan ini” pinta Sae Na.
            “ Sekali tidak mau ya tidak mau!, kau membuang waktu istirahatku, annyeong !” pamit Hwang Joong yang mulai melangkahkan kakinya keluar kelas. Bisa dikatakan bahwa dia menghindar dari Sae Na.
            Sae Na hanya menggelengkan kepalanya dia sudah capek mencari Hwang Joong ke seluru penjuru sekolah. Se Young yang melihat temanya kelelahan hanya tersenyum lembut dan memberikan botol mineralnya.
            “ Gomawo Se Young-ah”
>< 
            Masih dua puluh menit lagi untuk keluar dari sini, keluh Sung Ri. Dia lebih tertarik melihat awan melalui jendela di sebelahnya dari pada mendengarkan Lee-seonsaengnim di depan. Ingin rasanya dia keluar dari neraka yang bernama kelas ini dengan secepatnya.
SREEK
            Suara pintu di geser membuat semua penghuni kelas menghentika seluruh aktivitasnya dan melihat siapakah yang datang. Seorang namja popular di sekolah sedang berdiri di ambang pintu. Matanya berusaha mencari seseorang yang saat ini dia butuhkan. Dan mata tersebut berhenti tepat di salah satu bangku seorang yeoja berambut hitam yang sedang melamun menghadap jendela.
            “ Lee seonsaengnim bolehkah aku meminjam salah satu muridmu?” tanyanya. Para siswi perempuan menatap namja tersebut dengan mata berbinar, mereka semua sangat berharap bahwa salah satu dari mereka yang di maksud.
            “ Ne, silahkan” izin Lee seonsaengnim yang mulai mencatat rumus entah apa di papan.
            Namja tersebut berjalan dengan santainya menuju kesalah satu bangku dekat jendela. Tangannya ia ulurkan untuk menepuk pudak si pemilik bangku tersebut. Tepat seperti dugaanya si pemilik bangku tampak terlonjak kaget saat pandanganya tertuju pada dirinya.
            Semua yang melihat adegan tersebut hanya menatap iri. Jika kalian penasaran siapa itu, mereka adalah D,o Kyung Soo dan Park Sung Ri. Bahkan beberapa murid jurnalistik yang satu kelas dengan Sung Ri sempat mengabadikan moment tersebut melalui kamera telpon gengamnya.
            “ D.o? w-wae?” tanya Sung Ri gelagapan. Gara-gara kejadian dia tertangkap basah saat tak sengaja menguping pembicaraan D.o dengan pacarnya, Sung Ri merasa sedikit canggung bersamanya.
            “ Kita di suruh Edison untuk membahas beberapa hal penting saat ini juga” jawab D.o santai. Sung Ri hanya mengangguk dan berdiri dari bangkunya.
            Secara reflek tangan D.o menggemgam tangan Sung Ri. Sontak semua mata membulat semua termasuk Sung Ri sendiri. D.o menarik Sung Ri keluar kelas meninggalkan beribu mata yang membulat sempurna.
                                                                        >.<
            This is my coup d’etat
Ibeseo ibeuro doneun boomerang
Hands up, get high
Norae sijakhanda naega sullaeda
            Nada dering i-phone milik Hwang Joong terdengar di susul dengan nama So Jung Call di bagian layarnya. Hwang Joong mentapa i-phonenya diam. Sebetulnya jam pelajaran masih berlaku di sekolah ini, tapi karena Hwang Joong sedang malas untuk sekedar berdiam diri di kelas sambil mendengarkan ocehan entah apa isinya yang keluar dari mulut Chan Ra seonsaengnim, dia memutuskan untuk beristirahat di ruang kesehatan.
            Jari telunjuknya dia geserkan ke layar posel tersebut setelah itu menempelkan I-phonenya di telinga kanan. Kakinya dia taruh diatas meja, tenang saja hanya dia seorang murid perempuan  yang memakai seragam laki-laki.
            “ Yo__” belum sempat Hwang Joong menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba terdengar suara cempreng di seberang sana yang membuat dirinya menjauhkan I-phonenya dari telinga.
            “ Hwang Joong-ah I miss you! Bagaimana kabarmu? Eh bukanya sekarang jam pelajaran Chan Ra seonsaengnim? Kenapa kau bisa mengangkat telpon dariku? Apa kau membolos? Ah itu tidak penting, yang penting nanti cari Sae Na dan katakana jika dia harus mengikuti rapat selanjutnya bersama Se Hun, sudah dulu,ya aku sibuk. Annyeong!” cerocos So Jung di seberang sana lalu memtuskan sambungan telponnya.
            Hwang Joong mengaga dan menaikan sebelah alisnya bingung. Dia kemudian bangkit dan meninggalkan ruang kesehatan.
            Langkah kaki yeoja bertampang garang berhenti di salah satu bangku taman yang di duduki seorang yeoja dan namja yang sedang memakan ice-cream. Jika dilihat-lihat kedua orang tersebut seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan kemudian muncul seorang monster yang merusak suasana.
            “ Sae Na, Se Hun-ssi besok kau berdua akan menghadiri rapat di-di-aigo aku lupa nama sekolahnya” kata Hwang Joong sambil berusaha mengingat-ingat.
            “ Seoul Art High School” muncul suara berat dari belakang tubuh Hwang Joong. Disana berdiri sang ketua OSIS yang tampaknya selesai berolahraga karena dia memakai sergam olahraga disertai bulir-bulir keringat.
            “ Nah! Itu maksudku” sahut Hwang Joong.
            “ Ne, kami akan datang jika kau mau memakai seragam ini!” jawab Sae Na yang di tanganya kini terdapat seragam menjijikan entah dari mana asalnya.
            “ Shireo!” teriak Hwang Joong kemudia berlari meniggalkan TKP. Sae Na yang melihat temanya kabur buru-buru menyusulnya sambil meneriaki Hwang Joong. Sedangkan Edison dan Se Hun hanya saling memandang dengan wajah cengo.

            Selesai juga chap ini!. Maaf baru update sekarang karena aku harus mengalai masa ke-stressan akibat UTS beberapa minggu yg lalu. Sekedar Informasi aku dan twinsku sedang mengidolakan seorang yang bernama hayinata. Terimakasih semua yang udah mau nunggu dan baca chap ini. Bye~

Chap 8 Coming Soong

Sabtu, 11 Oktober 2014

une réalité

Diposting oleh zahra natasya di 08.43 0 komentar
.
.
.
.
Kulangkahkan kakiku mengelilingi taman kota. Jam tanganku sudah menunjukan pukul lima sore, tapi aku belum berniat untuk pulang ke rumah. Sejujurnya ada beberapa masalah yang harus ku selesaikan, mungkin bagi kalian tidak penting tapi bagiku itu masalah yang sangat penting. Fedrick, itulah masalahku, seorang anak laki-laki yang pendiam dan telah menjadi pacarku selama beberapa bulan terakhir. Yah, setidaknya sebelum aku mengetahui bahwa mantan pacarku tersebut adalah seorang gay.

Tadi siang sehabis aku menemui Mr.Mark, seorang anak perempuan berbehel menghampiriku dengan nafas memburu. Dia berkata bahwa dia melihat Fedrick berciuman dengan Carllos kakak kelas di dekat gudang sekolah. Awalnya aku tidak percaya sampai akhirnya perempuan yang kuketahui bernama Jessica tersebut memberitahukan sebuah foto di ponsel gengamnya. Foto tersebut menampilakan dua orang laki-laki berpakain seragam sekolah tengah berciuman. Salah satu laki tersebut memakai kacamata berambut hitam pekat melingkarkan kedua lenganya di bahu pria berambut cokelat didepannya. Yup, itu Carllos yang sedang mencium Fedrick dengan mesranya.

Mataku membualat dengan sempurna. Aku saja yang sudah beberapa bulan menjadi pacarnya belum sekalipun di cium. Tapi dengan bukti ini aku mengerti kenapa Fedrick selalu meringis kesakitan di setiap pagi, lehernya memar, bahkan pernah suatu hari pas aku telfon dia yang menjawab malah Carllos. Pada saat itu Carllos bilang jika Fedrick sedang bersamanya untuk membuat laporan keungan OSIS. Keesokan harinya Fedrick tak terlihat di sekolah, jadi kuputuskan untuk menemui Carllos tapi anehnya Carllos tidak masuk sekolah. Kutelfon Fedrick berkali-kali namun nihil dia tak menjawab. 

Bel pulang sudah berdering, jadi kuputuskan untuk menjenguk Fedrick dirumahnya. Kukirimkan pesan singkat untuknya, namun saat di perjalanan dia menlfonku dia bilang jika keluar kota bersama pamanya. Suara tampak parau khas orang baru bangun tidur, kutanyakan keadaanya dia menjawab bahwa dia baik-baik saja. Dengan berat hati aku menunggu bus di halte dekat rumah Fedrick berada untuk pulang.

Hari ini hari weekend jadi kuputuskan untuk mengajak Fedrick berkencan di taman bermain. Memang aneh sih diamana sorang perempuanlah yang mengajak kencan tapi begitulah kenyataanya. Kutunggu dia di dekat stand ice-cream saat dia datang aku melihat Carllos di belakangnya dengan wajah tak suka. Fedrick menggenggam tangan kananku sambil tersenyum membuat aku mengalihkan pandangan dari Carllos sebelumnya.

Kami bertiga sangat menikmati sampai saat Fedrick yang ingin mengantarku pulang, Carllos langsung menarik lengan Fedrick dan mengajaknya sedikit menjauhiku. Kulihat mereka sedikit berdebat. Fedrick kembali kehadapanku dengan raut wajah sedih. Dia berkata bahwa tidak bisa mengantarku pulang karena harus mencari peralat untuk pentas seni. Dengan berat hati aku tersenyum dan memperbolehkannya untuk bersama Carllos.

Betapa bodohnya saat itu. Otakku kenapa tidak bekerja pada saat itu. Saat dimana mereka berdua memberikan kode-kode. Tak terasa air mataku sudah mengalir membuat anak sungai di kedua pipi tirusku. Ku remas rambutku sehingga berantakan dan menangangis di tempat. Jessica yang melihat keadaanku berusa menenangkanku.

Sampai suara yang kukenal sedang meneriaki namaku. Ku tengok siapa yang datang, dan benar du gaanku di situ di depanku sekarang ada Fedrick yang mentaoku khawatir dan di belakngnya tampak Carllos yang melihatku tak suka. Tangan Fedrick yang ingin menghapus aliran air mataku takku biarkan. Kedua tanganku menangku wajahku, tangisanku makin mengeras. Fedrick berusaha menenangkanku dengan bantuan Jessica.

Karena sudah tak tahan lagi, aku mulai berdiri dan mengapus air mataku. Kuhampiri Carllos yang berdiri tak jauh dariku dan menampar pipinya. Semua yang berada di situ tercengat dengan apa yang kulalukan dengan Carllos. " so, is he a prince turns school gay, fuck,bicth" itulah yang kukatakan. Carllos tak tinggal diam dia menojok pipi kananku sehingga tampak memar. Fedrick menolongku tapi dengan sigam ku tendang perutnya. " I want our relationship ended, now!" teriakku dengan penuh penekanan di setiap katanya.

Kutinggalkan mereka semua dan berlari ke kamar mandi. Kudengar isak tangis Fedrick saat ku teriakki seperti itu. sejujurnya aku taingin membuat Fedrick mengis karena aku tahu jika Fedrick orang yang lemah untuk ukuran laki-laki.

Disinalah aku berada di dekat danau dengan tampilan mengenaskan. Air mataki masih mengalir di kedua pipiku. Ku lemparkan batu kerikir di dekatku kedalam danau. Tak terasa sudah tiga jam aku disini merenungi nasib. Yup, aku harus berjanji akan melupakanya mulai dari detik ini. Ku tarikan bibirku untuk membentuk senyuman. Sebuah senyuman yang akan mengantarkanku ke lembaran baru. Dimana aku akan mendapatkan kebahagiaan sebenarnya. Semoga...

The End

Selesai juga cerita oneshoot pertamaku. terimakasih yang sudah membaca. Btw ini cerita terispirasi oleh tante-tante yang rambutnya nyentrik dan laki-laki yang entahlah aku tak bisa menceritakannya. Cerita ini aku dedikasikan untuk temanku Ken. Jangan kira dia laki dia seratus persen perempuan, kurasa?.

BYE
 

Zara's Blog Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei