.
.
.
.
.
.
.
Kulangkahkan kakiku mengelilingi taman kota. Jam tanganku sudah menunjukan pukul lima sore, tapi aku belum berniat untuk pulang ke rumah. Sejujurnya ada beberapa masalah yang harus ku selesaikan, mungkin bagi kalian tidak penting tapi bagiku itu masalah yang sangat penting. Fedrick, itulah masalahku, seorang anak laki-laki yang pendiam dan telah menjadi pacarku selama beberapa bulan terakhir. Yah, setidaknya sebelum aku mengetahui bahwa mantan pacarku tersebut adalah seorang gay.
Tadi siang sehabis aku menemui Mr.Mark, seorang anak perempuan berbehel menghampiriku dengan nafas memburu. Dia berkata bahwa dia melihat Fedrick berciuman dengan Carllos kakak kelas di dekat gudang sekolah. Awalnya aku tidak percaya sampai akhirnya perempuan yang kuketahui bernama Jessica tersebut memberitahukan sebuah foto di ponsel gengamnya. Foto tersebut menampilakan dua orang laki-laki berpakain seragam sekolah tengah berciuman. Salah satu laki tersebut memakai kacamata berambut hitam pekat melingkarkan kedua lenganya di bahu pria berambut cokelat didepannya. Yup, itu Carllos yang sedang mencium Fedrick dengan mesranya.
Mataku membualat dengan sempurna. Aku saja yang sudah beberapa bulan menjadi pacarnya belum sekalipun di cium. Tapi dengan bukti ini aku mengerti kenapa Fedrick selalu meringis kesakitan di setiap pagi, lehernya memar, bahkan pernah suatu hari pas aku telfon dia yang menjawab malah Carllos. Pada saat itu Carllos bilang jika Fedrick sedang bersamanya untuk membuat laporan keungan OSIS. Keesokan harinya Fedrick tak terlihat di sekolah, jadi kuputuskan untuk menemui Carllos tapi anehnya Carllos tidak masuk sekolah. Kutelfon Fedrick berkali-kali namun nihil dia tak menjawab.
Bel pulang sudah berdering, jadi kuputuskan untuk menjenguk Fedrick dirumahnya. Kukirimkan pesan singkat untuknya, namun saat di perjalanan dia menlfonku dia bilang jika keluar kota bersama pamanya. Suara tampak parau khas orang baru bangun tidur, kutanyakan keadaanya dia menjawab bahwa dia baik-baik saja. Dengan berat hati aku menunggu bus di halte dekat rumah Fedrick berada untuk pulang.
Hari ini hari weekend jadi kuputuskan untuk mengajak Fedrick berkencan di taman bermain. Memang aneh sih diamana sorang perempuanlah yang mengajak kencan tapi begitulah kenyataanya. Kutunggu dia di dekat stand ice-cream saat dia datang aku melihat Carllos di belakangnya dengan wajah tak suka. Fedrick menggenggam tangan kananku sambil tersenyum membuat aku mengalihkan pandangan dari Carllos sebelumnya.
Kami bertiga sangat menikmati sampai saat Fedrick yang ingin mengantarku pulang, Carllos langsung menarik lengan Fedrick dan mengajaknya sedikit menjauhiku. Kulihat mereka sedikit berdebat. Fedrick kembali kehadapanku dengan raut wajah sedih. Dia berkata bahwa tidak bisa mengantarku pulang karena harus mencari peralat untuk pentas seni. Dengan berat hati aku tersenyum dan memperbolehkannya untuk bersama Carllos.
Betapa bodohnya saat itu. Otakku kenapa tidak bekerja pada saat itu. Saat dimana mereka berdua memberikan kode-kode. Tak terasa air mataku sudah mengalir membuat anak sungai di kedua pipi tirusku. Ku remas rambutku sehingga berantakan dan menangangis di tempat. Jessica yang melihat keadaanku berusa menenangkanku.
Sampai suara yang kukenal sedang meneriaki namaku. Ku tengok siapa yang datang, dan benar du gaanku di situ di depanku sekarang ada Fedrick yang mentaoku khawatir dan di belakngnya tampak Carllos yang melihatku tak suka. Tangan Fedrick yang ingin menghapus aliran air mataku takku biarkan. Kedua tanganku menangku wajahku, tangisanku makin mengeras. Fedrick berusaha menenangkanku dengan bantuan Jessica.
Karena sudah tak tahan lagi, aku mulai berdiri dan mengapus air mataku. Kuhampiri Carllos yang berdiri tak jauh dariku dan menampar pipinya. Semua yang berada di situ tercengat dengan apa yang kulalukan dengan Carllos. " so, is he a prince turns school gay, fuck,bicth" itulah yang kukatakan. Carllos tak tinggal diam dia menojok pipi kananku sehingga tampak memar. Fedrick menolongku tapi dengan sigam ku tendang perutnya. " I want our relationship ended, now!" teriakku dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Kutinggalkan mereka semua dan berlari ke kamar mandi. Kudengar isak tangis Fedrick saat ku teriakki seperti itu. sejujurnya aku taingin membuat Fedrick mengis karena aku tahu jika Fedrick orang yang lemah untuk ukuran laki-laki.
Disinalah aku berada di dekat danau dengan tampilan mengenaskan. Air mataki masih mengalir di kedua pipiku. Ku lemparkan batu kerikir di dekatku kedalam danau. Tak terasa sudah tiga jam aku disini merenungi nasib. Yup, aku harus berjanji akan melupakanya mulai dari detik ini. Ku tarikan bibirku untuk membentuk senyuman. Sebuah senyuman yang akan mengantarkanku ke lembaran baru. Dimana aku akan mendapatkan kebahagiaan sebenarnya. Semoga...
The End
Selesai juga cerita oneshoot pertamaku. terimakasih yang sudah membaca. Btw ini cerita terispirasi oleh tante-tante yang rambutnya nyentrik dan laki-laki yang entahlah aku tak bisa menceritakannya. Cerita ini aku dedikasikan untuk temanku Ken. Jangan kira dia laki dia seratus persen perempuan, kurasa?.
BYE
0 komentar:
Posting Komentar