Tidak adakah didunia ini yang
dinamakan ‘ketenangan’, maksudku bukan mati juga?!. Setiap jam, menit, bahkan
detik detik selalu muncul masalah. Adakah yang bisa menolongku yang di
kelilingi masalah setiap saat?.
Hidup tanpa kedua orangtua dan
saudara membuat aku tertekan sebelumnya. Kecelakaan yang melibatkanku dan
keluarga beberapa tahun yang lalu, tapi disaat semua sudah tiada kenapa aku
malah terselamatkan?. Bukan hanya itu, entah persetanan macam apa yang
dilakukan pamanku yang menyebabkan seluruh perusahaan ayah bangkrut total
sehingga harus mengganti seluruh biaya perhutangan. Rumah sudah di sita serta
apa yang ada didalamnya, membuatku harus mencari tempat berteduh.
Kaos putih tipis pemberian ibu dulu
adalah satu-satunya yang dapat menjadi tameng saat udara dingin selalu menyapa
malam hari. Semua saudaraku sudah aku datangi sebelumnya tapi mereka semua tak
merasa belas kasihan terhadapku. Jadi benar dugaanku sebelumnya mereka semua
hanya memakai topeng saat oarangtuaku masih ada tapi sekarang mereka semua
mulai membuka topengnya secara perlahan.
Tubuhku mulai mengering menyisakan tulang
terbungkus kulit kusam. Makan?, aku sudah makan dari hasil berburu di tempat
sampah dekat restorant yang dulu aku sering kunjungi. Semua pekerjaan sudah aku
coba tapi hasilnya selalu ditendang keluar.
Bunuh diri?, pernah hampir aku
lakukan setidaknya sebelum seorang laki-laki berjas menghentikanku. Laki-laki
itu tampak sebaya dengaku tapi mungkin dia lebih tua beberapa bulan dariku.
Saat aku dibawanya menuju mobil pikiran
pertamaku hanyalah ‘ APA AKU GILA?! DENGAN MUDAHNYA MENGIKUTI PERINTAH ORANG
YANG BELUM KU KENAL!’. Laki-laki itu memberikanku sebuah selimut tebal. Awalnya
aku bingung sampai laki-laki tersebut mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku
tenang.
“ Pakailah, aku ini orang baik”
katanya. Aku langsung menyelimuti tubuhku dengan selimut. Perlahan-lahan mataku
mulai menutup sedikit demi sedikit menyisakan jalan menuju mimpi indah.
“ Anak sialan pergi dari rumahku!”
teriak perempuan paruh baya dengan dandanan menornya. Aku hanya menghela nafas
ketika adik dari ayahku dengan senang hati mengusirku dengan cara menendang
perutku.
“ Tapi, aku harus tinggal dimana?”
tanyaku dengan muka memelas. Namun, hasilnya nihil dia hanya menatapku remeh,
tanganya di ulurkan kedalam saku rok lipit yang dia kenakan. Beberapa lembar
uang yang semula tersimpan rapi di sakunya kini berpindah ke tanganya.
“ Nih, kurasa ini lebih dari yang
kau butuhkan” katanya sambil melempar uang kearahku disusul dengan tutupan
pintu apartementnya.
Kupungut beberapa lembar uang
tersebut dan menyimpanya di saku celana. Saat aku mulai memasuki lift tiba-tiba
seorang paman yang tampak mabuk menghampiriku. Dia merancau tidak jelas
membuatku risih. Paman tersebut memojokanku dan dia ingin menciumku. Tapi
untungnya sebelum kejadian itu pintu lift terbuka dengan sekuat tenaga
kujauhkan tubuhnya dari hadapanku dan langsung berlari menjauh darinya. BRUK.
Mataku langsung membuka seketika.
Kepalaku pusing bukan main-main. Pandangan yang pertama ku pertajam adalah
sebuah televisi yang ada di depanku. Tanganku mencoba memukul alas yang aku
tiduri namun yang mengejutkan alas yang kupakai tidur ini empuk.
Pintu kamar terbuka dan menampilkan
laki-laki yang menolongnya tadi. Laki-lai tersebut membawa nampan berisi
beberapa macarons dan segelas susu cokelat panas. Dia duduk di tepi ranjang
nampan berisi makanan tersebut di letakkan di meja nakas di sebelah ranjang.
“ Perkenalkan namaku Shebaco
Toineiller kau bisa memanggilku Sheb” katanya memperkenalkan diri. Aku tak
menanggapinya malah kepalaku menunduk dan pusing ini semakin menjalar.
“ Bolehkah aku tahu siapa namamu?”
tanya lagi. Suaranya begitu lembut bagaikan melodi di kotak music. Aku
mengadahkan kepala untuk melihat rupawanya. Wajah laki-laki tersebut sangatlah
damai.
“ Na-namaku Ellizabeth” jawabku
lemah. Sheb memberikanku segelas cokelat panas. “ Minumlah” perintahnya.
Kuteguk langsung semua cairan didalamnya hingga tak tersisa apapun. Kubersihkan
sisa-sisa noda susu cokelat di pinggiran bibir dengan punggu tanganku.
Sebh terkekeh geli melihat tingkahku.
Dia merongoh saku celananya untuk mengeluarkan sapu tangan berwarna blue sky.
Tangannya terulur membersihkan punggung tanganku. Awalnya aku kaget tapi
akhirnya aku berterimakasih kepadanya dengan senyuman.
Sekarang aku tinggal di panti asuhan
milik keluarganya. Sebh selalu berusaha membuatku terhibur. Bahkan setiap hari
dia selalu bercerita sehabis dia pulang sekolah walaupun hanya aku tanggapi
dengan perkataan singkat. Kadang dia mengajariku tentang beberapa pelajaran
yang ada di sekolah. Mulai saat itu aku mulai merasakan kebahagian sedikit demi
sedikit.
Yah itulah sepenggal masa laluku
yang kuingat. Hari ini tepat lima tahun ulang tahun pernikahanku bersama Sebh
diadakan dengan cara sederhana. Haya ada aku, Sebh dan kedua putri kita Victoria
dan Elve berserta album foto yang selalu menyimpan moment-moment kami. Sebh
pernah bilang ketika dia melamarku bahwa tidak ada orang yang bisa berdiri
sendiri dia butuh penyangga dikala susah yaitu aku. Selama ini Sebh berusaha
menjadi penyangga tubuhku ketika aku bersedih. Aku sangat terharu pada saat
itu, sampai-sampai air mataku jatuh membentuk anak sungai di kedua pipiku.
“ Terimakasih kau sudah menemaniku
sampai saat ini” kataku. Sebh yang dari tadi sibuk dengan anak-anak menoleh
kearahku sambil tersenyum lembut. Tanganya mengusap pipiku.
“ Your welcome, and please
stand by me for happiness forever after”
0 komentar:
Posting Komentar