Sabtu, 29 November 2014

Crazy Dreams Come True Chap9 (B)

Diposting oleh zahra natasya di 23.51 0 komentar
Perhatian:
Dilarang copas cerita ini
Maafkan saya yang updatenya lama banget.
Maaf jika ini cerita tidak memuaskan para pembaca.
Maaf jika ada kesalahan kata
Berikan COMENT setelah membaca
Gomawo/xie-xie/arigatou/terimakasih
Se Young POV.
            Setelah mendapat panggilan dari Sae Na, kutinggalkan sarapanku begitu saja lalu berlari menuju halte depan sekolah. Jantungku semakin berdetak kencang, keringat dingin mulai mengiahsi wajah cemasku. Akhirnya ada bus yang lewat juga, aku buru-buru memasukinya. Sialnya didalam bus tersebut sangatlah penuh sampai-sampai aku harus berdiri didekat kursi pengemudi.
            Bus yang kunaiki berhennti didepan rumah sakit umum sekitar. Kurongoh saku rok-ku untuk mengambil beberapa uang dan memasukannya di sebuah box berukuran sedang didekat pintu keluar. Lankah kakiku semakin cepat menuju ruang UGD, dan parahnya lagi detak jantung semakin berdegup kecang serta keringat yang mengucur terlalu banyak seperti orang yang baru mengikuti lomba lari marathon.
            Salah satu lorong terdapat beberapa orang yang kukenali. Diantaranya Sae Na yang masih menangis disebelahnya ada Se Hun yang masih berusaha menenangkanya, So Jung, Sung Ri dan Hee Byul terisak pelan, dan sisanya yaitu Edison, Kyung Soo, dan Hwang Joong diam di dekat pintu operasi.
            Melihat kedatanganku Sae Na tiba-tiba memelukku sangat erat dan parahnya lagi tangisannya tambah keras. Pelukkannya tambah lama makin erat membuatku sesak nafas. “ M-mian Se Young-ah a-aku tidak dapat menyelematkan nyawa Baek So-ssi” katanya membuat air mataku mengalir membentuk anak sungai.
            Ku lepaskan pelukkannya dengan paksa lalu berlari menuju pintu operasi. Aku sudah tak tahan lagi, sakit ini makin menjalar keseluruh tubuh. Hwang Joong menahanku, aku berusaha melepaskanya namun cengkramanya malah membuat tanganku memerah dengan cepat.
            “ Pabbo, jika kau ingin bertemu denganya jangan sekarang, didalam sana masih ada umma Baek So-ssi dan beberapa perawat” kata Hwang Joong santai. Aku menatapnya dengan kesal.
            “ Seharusnya aku yang bilang pabbo. Kau! Kau tidak punya perasaan sama sekali. Bagaimana bisa tuhan menciptakan manusia sepertimu?. Apa kau tak punya otak hah?” caciku yang benar-benar marah terhadap orang dihadapanku ini.
BUK.
            Hwang Jong meninju pipi kananku hingga aku terpental. Sae Na, So Jung, Hee Byul, dan Sung Ri menolongku sedangkan yang lain menggeret Hwang Joong keluar. Sae Na menuntunku ke tempat duduk lalu memberiku sebotol minuman dingin.
>< 
            Pintu ruang operasi terbuka dan menampilkan para perawat keluar sambil mendorong kereta tempat tidur yang diatasnya terbaring lemah dengan wajah pucat. Umma Baek So tampak di bopong seorang perawat karena pingsan.
            Se Young berjalan mendekat dan melihat kondisi fisik yang sudah tidak dapat dikenalinya. Senyumannya, kacamata hitam, tawanya semua sirna sudah. Se Young menangis dengan keras sehingga dia harus di geret paksa oleh teman-temannya untuk menjauh dari jasad Baek So.
>< 
            Hitam. Hari ini adalah hari terakhir bagi semua orang bertemu dengan Baek So walaupun sebenarnya Baek So tidak dapat merasakan orang-orang disekitarnya. Teman-teman, keluarga, bahkan sahabat dari kecilnyapun ikut datang di hari pemakaman.
            Se Young memakai dress hitam selutut dan terdapat pita kecil bewarna putih di bagian bawah dress tersebut. Wajahnya masih dihiasi airmata yang daritadi mengalir terus menerus. Tangannya terdapat sebuah surat kecil yang sudah lusuh, surat pertama yang diberikan Baek So kepada Se Young saat mereka masih duduk dibangku taman kanak-kanak.
            Perlahan-lahan para tamu mulai meninggalkan pemakaman, dan hanya tersisa Se Young seorang. “ Baek So-ah wae? Wae? Kau pergi meninggalkanku secepat ini?” Tanya Se Young sambil mengelus-elus batu nisan yang tercantum nama sahabat semasa kecilnya.
            Hanya semilir angin yang menyahut perkataan Se Young. Udara musim dingin menusuk pori-pori kulitnya. Beberapa helar rambutnya juga ikut melayang tersapu angin. Untuk yang keberapa kalinya air mata itu terus meluncur dari matanya.
TUK TUK
            “ Kupikir kau sudah pulang?” Tanya seseorang di belakang Se Young. Tanpa menoleh kebelakangpun Se Young sudah tau jika itu suara salah satu teman sekelasnya.
            “ Mau apa kau kemari?” Tanya balik Se Young.
            Orang yang berada di belakang Se Young berjalan kesisi lain makam Baek So. Dia mengenakan setelan hitam-hitam seperti Se Young. Dia mengulurkan tangan kanannya yang mengenggam selembar kertas lusuh. Se Young manatap dengan bingung.
            “ Aku menemukannya di kolong meja Baek So-ssi ketika sehari sebelum dia tiada”.
Flashback on
Hwang Joong POV.
            Hari ini aku mendapat hukuman lagi, karena membolos sewaktu jam pelajaran matematika. Park Seonsaengnim menyuruhku mengerjakan lima puluh soal matematika di kelas sebelah. Selama aku mengerjakan seonsaengnim sialan ini malah asik membaca buku ‘ tips-tips mempunyai keturunan sempurna’.
Soal no.1-20 masih gampang
No21-37 lumayan
No38-40 mulai sulit
No41-45 ini soal gimana cara hitungnya?
No46-50 Michigo! Aku menyerah.
            Kurang lima nomor lagi aku bisa pulang, sial kertas hituanganku sudah tidak ada ruang lagi. Ku rogoh kolong meja yang ku tempati dan menemukan selembar kertas lusuh, kupikir itu contekan namun dugaanku salah.
            Beberapa kalimat tidak jelas karena tinta bulpoin itu luntur terkena air. Ku rogoh lagi kolong mejanya dan menemukan kartu pelajar siswa. Saat kubaca ternyata itu Baek So-ssi, jadi kuputuskan untuk menyimpanya.
Flashback end
            Se Young menerima selembar kertas tersebut dengan bergetar. Perlahan tapi pasti dia membuka selembar kertas tersebut dengan hati-hati kemudian membacanya dengan teliti.
Masih lamakah aku hidup seperti ini?. Appa umma apa kalian tidak menyayangiku?. Aku benci kalian. Aku hari ini tidak mau pulang, aku lebih memilih tinggal di bar daripada dirumah. Khamsahamnida.
Se young mian….
            Hanya sampai disitu kata-kata yang dapat dibaca, selanjutnya tidak dapat dibaca dikarenakan telah terhapus oleh air sehingga tinta-tintanya luntur. Tampaknya Baek So menangis setelang menulis.
            Hwang joong menundukkan kepala untuk melihat Se Young yang masih sibuk dengan tangisanya. Pandanganya beralih kearah makam Baek So dengan bunga-bunga yang disenderkan di batu nisanya.
            Dia melepaskan jaketnya dan melemparkanyanya ke Se Young. “ Bodoh, diudara yang sedingin ini kau hanya memakai dress tanpa lengan”. Se Young tidak menanggapi perkataan Hwang Joong.
            “ Cepat pakai lalu pulang sana!” perintah Hwang Joong lalu berlalu pergi. “ Jangan lupa kau cuci” lanjutnya kemudian menghilang dari pemakaman.
>< 
Tiga hari kemudian…
            “ Pilihanku memang tepat!” teriak Sae Na bangga. Pasalnya seragam pink pilhanynya memang pantas dipakai oleh teman-temannya. Sung Ri dari tadi sibuk menyisir rambutnya hanya tersenyum simpul.
            Kali ini para pengurus lomba sedang berkumpul di ruang OSIS. Jarum pendek masih menunjukan angka lima yang pastinya sekolah masih sangat amat sepi. Tampak hanya ruang OSIS saja yang ramai.
            Edison sedang memeriksa berkas-berkas, Se Hun bermain tab, Kyung Soo membaca buku tebal entah apa isisnya, sedangkan para perempuan masih sibuk berdandan. Mereka semua sedang menunggu Hwang Joong yang dari tadi belum menampkan batang hidungnya, kata Hee Byul sepupunya tersebut ada urusan mendadak sejak dini hari.
            Sae Na sibuk menghubungi Hwang Joong, dan akhirnya dijawab juga setelah sekian lama dia mencoba menghubunginya.
“ Yoboseyo?”
“Yoboseyo”
“ Kau dimana? Cepat kesekolah!”
“ Aku baru sampai rumah dan ingin tidur”
“ Tidak ada penolakaan sekarang juga atau Edison akan memberitaumu ke Cha Ra Seonsaengnim”
“ Ne, aku segera kesana”
            Setelah sambungan terputus mereka semua sarapan bersama.
            “ Hwang Joong masih belum bisa dihubungi?” Tanya Edison di sela-sela makan roti isi selai cokelat kesukaanya.
            “ Dia bilang sebentar lagi dia akan datang” jawab Sae Na disusul dengan ketukkan pintu. Semua orang langsung menolehkan kepala mereka. Disana tampak seseorang yang sadari dari tadi yang dinggu mereka berdiri dengan keadaan kacau.
            Rambutnya acak-acakan, Kantung mata hitam legam, wajah pucat pasi, tubuhnya yang kurus memakai piyama hitam serta kakinya yang tidak beralaskan apapun. So Jung langsung berteriak histeris ala film horror pada waktu hantunya muncul.
            “ Darimana saja kau?” Tanya Edison dengan nada mengitimidasi. Hwang Joong dengan tidak sopannya menguap lebar dan menatap teman-temannya bergantian.
            “ Bukan urusanmu” jawabnya.
            “ Twins, kau tidak mengganti pakaianmu?” kali ini So Jung angkat suara.
            “ Sudah kubilang aku ingin tidur saat ini juga, lagian seragam pink menjijikan itu sudah aku buang” jawab Hwang Joong kalem yang masih setia bersender di samping pintu masuk.
            “ Apa kau bilang? Kau membuang seragam itu? CEPAT SEKARANG KAU CARI SERAGAM ITU LALU MEMAKAINYA SEKARANG JUGA!, JIKA TIDAK KAU AKAN KULAPORKAN CHA-RA SEONSAENGNIM” teriak Sae Na marah kemudian mendorong tubuh Hwang Joong sehingga terjungkal kebelakang.
            Semua yang berda disitu hanya cengo. Hwang Joong berdiri dang hendak meninju pipi kanan Sae Na namu usahanya gagal karena lengannya kini di cengkram erat oleh Se Hun.
            “Cih..” guman Hwang Joong sambil melepakasn cengkraman tersebut lalu pergi meninggalkan tempat kejadian.
            Se Hun mengelus rambut lurus Sae Na dengan pelan lalu memeluk tubuh mungilnya.
            “ Uljima, Hwang joong-ssi pasti akan memakai seragam pilihanmu” katanya seraya menghapus jejak-jejak air mata Sae Na. Muka Sae Na tampak bersemu yang membuatnya makin imut. Karena tidak tahan lagi, Se Hun mencubit kedua pipi yeoja dihadapannya dengan gemas.
            “ Auw” rintih Sae Na.
“ Mian, habis kau lucu kalau sedang malu”  kata Se Hun yang makin membuat wajah Sae Na semerah tomat.

Selesai Chap 9B. Maafkan saya karena updatenya sangat amat lama soalnya kondisi yang sangat sibuk. Terimakasih sudah mau nunggu chap selanjutnya. Bye

Chap 10 Coming Soon~

Sabtu, 15 November 2014

Im With You

Diposting oleh zahra natasya di 04.04 0 komentar
S
H
I
N
e
e


Aku banyak belajar darimu. Kepercayaan, kesetiaan, dan arti penting dari cinta. Ingatkan aku pada pertemuan pertama kita. Tepat tanggal 14 Frebuari 2008 di salah satu hutan lebat. Saat itu aku benar-benar sudah gila, kabur dari rumah berjalan kearah hutan dengan aliran air mata yang setia menemaniku.


Udara semakin dingin, matahari telah hilang ditelan pepohonan tinggi nan rindah. Saking dinginnya udara jaket pemberianmu sewaktu kita bertetangga dulu tidak mampu menahan udara. Perutku sudah meronta-ronta minta diisi, namun malangnya nasibku roti terakhirku sudah kumakan tadi siang.


Samar-samar aku mendengar suara langkahan sepatu mendekat kearahku yang masih kekeuh duduk diatas tanah basah dengan wajah pucat pasi. Benar dugaanku kau datang menghampiriku, mengguncang tubuhku, menanyakan keadaanku walau aku tak dapat mendengarnya karena hujan begitu lebat. Kau membawaku pada dekapan hangatmu, wangimu langsung menerobos indera penciumanku sehingga membuatnya merasa hangat.


" Kumohon bertahanlah" bisikan itu yang aku ingat terakhir kali sebelum tak sadarkan diri.


Cahaya putih menyapa penglihatanku. Aku mengerjapkan kedua mataku agar dapat menyesuaikan cahaya sekitar. Tenggorokanku kering, serta bibirku pecah-pecah, kepalaku pusing seperti baru saja tertimpa benda berat. Ku coba mengingat kejadian kemarin malam walaupun beberapa hal terlewatkan.


Dengkuran halus membuatku tersadar dari lamunan. Kulirik seseorang disebelahku. Seorang laki-laki mantan kekasihku, tangannya masih memelukku dan mukanya pucat pasi. Kupindahkan lengannya pelan-pelan dan berjalan mencari sumber air.Langkah kecilku berhenti tepat disalah satu danau sekitar. Ku tampung air sejuk itu di kedua tanganku untuk membersihkan muka. Air disini sangatlah jernih sampai-sampai aku dapat melihat wajah berantakanku.


" Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau datang disaat aku membencimu? kenapa? kenapa?" lirihku sambil melemparkan beberapa kerikil kearah danau. Saat ini aku sedang duduk dipinggiran sungai yang damai.


" Jadi karena waktu itu kau membenciku" kata seseorang yang aku hafal suaranya tanpa menoleh kebelakang.


Kau duduk disebelahku sambil tersenyum menghadap langit biru. " Aku minta maaf, aku dapat merasakan apa yang kamu rasakan" lanjutmu. Tanpa sadar air mataku menetes. Kau mencoba menghapusnya layaknya seorang kekasih tapi aku malah menepis tanganmu.


" Baby, jangan menangis, aku disampingmu, bisakah kau mendengar suaraku?, kau tidak sedang sendiri".


Aku hanya diam dan berusaha mengusap air mataku sendiri. Kau telah menghianatiku, selama ini aku telah sepenuhnya percaya kepadamu, memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu tapi kini. Tepatnya kemarin aku melihatmu sedang berkencan mesra dengan salah satu perempuan bertubuh sexy di mall. Kau benar-benar brengsek.

" Kenapa kau ada disini? aku tak mau berhubungan lagi denganmu, lagi pula kita sudah tak ada hubungan lagi" kataku berusaha tegar.


" Baby, jadi kamu berusaha untuk menghapus air matamu? maafkan aku, tapi tolong dengarkan aku, kau tidak sedang sendiri. Kau salah paham perempuan yang waktu itu adalah kakakku. Apa kamu lupa?".


Aku mengerjapkan mata bingung. Betapa bodohnya diriku yang telah cemburu dengan kakak kekasihmu dan langsung memintanya putus.


" Maksudmu i-itu Hime onee-san?" kataku ragu. Terakhir kali aku bertemu dengannya sebelum kau sekeluarga pindah.


Kau hanya mengangguk.


"S-sumimasen, aku telah salah paham terhadapmu".


" Tidak apa, eum kebetulan disini aku akan mengajakkmu kesuatu tempat tapi kau harus tutup matamu biar aku yang membimbingmu"


Aku hanya mengguk patuh.


" Kazawa-kun apa masih lama?".


" Tunggu baby, sebentar lagi kita sampai"


Setelah percakan singkat itu kami berdua terdiam menikamti kicauan burung.

" Kita sudah sampai!"

Kubuka kain yang menutupi mataku secara paksa. Dan betapa terkejutnya aku sebuah ladang bunga membentang bebas dihadapanku. Kau menghampiriku dan menggengam tangan kananku.

" Ketika pagi tiba langit mulai terang, kamu akan melihat jalan yang benar, kamu bisa kembali melangkah, tapi ingat ada aku yang selalu setia di sampingmu, kau tidak sendirian masih ada aku yang selalu menemanimu, aku tak akan menghianatimu selamanya"

" You're not alone because Im With You"

soundtrack SHINee ( Im With You )
[Onew] Mayoikon da mori no naka de
Kimi wa michi wo nakushita maigo
[Onew] Tsuki noshizuku hoshi no katachi mo
Mie naimama kimi wa nai teruno
[Key] Oh Can you hear me?
Baby can you see?
Oh please my girl
[Taemin] Oh I ‘ m with you
[Jonghyun] Baby don ‘ t cry sobaniiruyo
Boku no koe yo todoi te Baby my love love love
So you can try namida wo nugui te
Kimi wa mou hitorijanai
You’re not alone alone alone
[Minho] Onaji basho de kurikaeshi teru
Dokokara kita no ? [All] Dokoni ike baii ?
[Taemin] Sonnatoki wa [All] Mimi wo suma shite
Kokoro no koe wo kii temiyouyo
[Key] Baby ready,
Now close your eyes and believe in yourself
Listen to your heart I’m with you
[Taemin] ‘ Cause I love you so
[Onew] Baby don ‘ t cry sobaniiruyo
Boku no koe yo todoi te Baby my love love love
So you can try namida wo nugui te
Kimi wa mou hitorijanai
You’re not alone alone alone
[Minho] Yagate higashi no sora ([All] Feel me feel me feel me wow)
Hikari ga michi wo sasu ([All] Feel me feel me feel me wow)
[Key] Aruki dase ruyo ([All] Love you love you anytime)
Shine on you ([All] Shine on you)
Shine on you ([All] Shine on you)
[Taemin] Mayoikon da mori no naka de
Boku no omoi ga kiko etara
[All] Baby don ‘ t cry sobaniiruyo ([Jonghyun] Sobaniiruyo)
Boku no koe yo todoi te Baby my love love love
So you can try namida wo nugui te
Kimi wa mou hitorijanai
You’re not alone alone alone
[All] Baby don ‘ t cry sobaniiruyo
Boku no koe yo todoi te Baby my love love love
So you can try namida wo nugui te
[Onew] Kimi wa mou hitorijanai I ‘ m with you


Sabtu, 08 November 2014

Crazy Dreams Come True chap9 (A)

Diposting oleh zahra natasya di 16.32 0 komentar
Perhatian:
Maaf jika ada kesalahn kata.
Dilarang copas alur cerita
100% brainmade
No like no read, and please get out
#PrayForMyPhone
> 
< 
> 
< 
TENG TENG
24.00pm
Hee Byul POV.
            Kini aku masih terbaring ditempat tidur milik sepupuku-Hwang Joong. Sudah tengah malam tapi kedua mataku sulit sekali untuk menutup. Mataku melirik kearah sofa, siapa tahu Hwang Joong masih belum tidur. Namun perkiraanku salah, kini Hwang Joong sedang terbaring dengan kaki kanan bertengger di lengan sofa sedangkan kaki kirinya di biarkan menyentuh permukaan lantai yang dingin. Mulutnya terbuka sedikit, kadang dengkuran halus keluar membuatku terkikik geli.
            Kuambil handphone yang berada di meja nakas dan berjalan mengendap-endap mendekati sepupuku itu.
CKLIK
            Sebuah foto kuambil lagi. Menurutku menfoto orang yang kusayangi adalah hobiku sejak dulu. Kakiku melangkah menjahui Hwang Joong dan menaiki kasur. Tubuhku mulai terbaring, tiba-tiba selintas peristiwa tadi dengan seenaknya lewat begitu saja di dalam otakku.
Flashback on
            Udara malam berhasil menembus mantel merah maron tebal milikku. Kurapatkan mantel tersebut beserta menenggelamkan setengah wajahku di balik syal. Kulirik Hwang Joong yang berada di sebelahku. Dia hanya memakai celana jeans dan t-shirt hitam tipis di balut dengan jaket biru dongker yang kuyakini sama tipisnya dengan t-shirt yang ia kenakan. Wajahnya tak menampilkan kedingan sama sekali. Aku sempat bertanya sewaktu kami ingin pergi makan malam berdua dan dia hanya menjawab “ Sudah biasa “.
            Kami berhenti disalah satu kedai di dekat taman kanak-kanak dan taman bermain. Ternyata pemilik kedai tersebut akrab dengan Hwang Joong membuatku merasa terasingkan ketika kedua orang tersebut bercerita. Hwang Joong bilang kedai ini sudah ada ketika dia masih ditaman kanak-kanak. Dulu dia sering mampir kesini bersama Kim ajumma dan Joong Hyun oppa.
            Beberapa pertanyaan keluar dari mulut Hwang Joong. Dari kepribadian, sikap, bahkan hal-hal yang menyangkut tentang appa-ku. Aneh sih? Tapi meski begitu aku menjawabnya antusias. Setelah menghabiskan beberapa jam di situ akhirnya kami pulang.
            Ditengah perjalanan tampak seorang yeoja sedang membawa kantung belanjaan dengan kewalahan. Aku menghampirinya dan ternyata itu Min Ri-ah teman baruku. Yeoja dengan blush-on pink menyala tersebut menyapa kami. Aku membalas sapaannya sedangkan Hwang Joong tentu saja tidak akan pernah sekalipun menegur ataupun membalas sapaan jika tidak penting jadi intinya dia tidak merespon sapaan Min Ri.
            Kami bertiga atau lebih tepatnya berdua (min Hwang Joong) sempat berbincang sebentar. Dengan seenak jidatnya ada seorang namja yang berteriak di belakang Min Ri. Sepertinya aku pernah mengenal suara itu tapi entah kapan, kurasa sudah lama sekali aku mendengar suara itu. Karena aku masih sibuk berkutat dengan pikiranku tanpa di sadari namja yang berteriak tadi sudah berada di depan Min Ri.
            Kuamati postur tubuhnya apalagi dengan kacamata persegi panjang berwarna merah maron di sampingnya tersebut terlihat tak sing bagiku. Mata sipit dengan bola mata cokelat terang, bibir tipis dan sebuah goresan yang berada di bagian leher. Tak salah lagi kini tepat dihadapanku berdiri namja yang amat sangat aku rindukan.
            “ Kim Seok Jin?” kataku hati-hati. Namja tersebut lalu menoleh kearahku. Saat mata kami bertemu tampak kedua belah pihak masih sama-sama shock terutama bagiku. Sesegera mungkin namja tersebut mengalihkan pandangan.
            “ Hee Byul?” setelah mengucapkan itu dia langsung berlari meninggalkan kami.
Flashback of
            Rasa kantukku mulai menjalar gara-gara aku masih memikirkan kejadian tadi. Dengan enggan aku menutup mata lalu bersembunyi di balik selimut tebal bermotif mata saringan ( mata milik keluarga uchiha yang terdapat di anime naruto).
>< 
            Matahari belum mau menampakan dirinya, namun kini Sae Na sudah berangkat kesekolah. Memang sih, rumahnya tidak jauh dari sekolah tapi bagi Sae Na berjalan di pagi hari yang cerah ini merupakan surge udara. Kakinya yang kecil membawanya menuju taman kota. Seragam yang diakenakan berupa kemeja berlengan pendek bewarna putih di tengah bagian leher terdapat pita bewarna pink putih dengan blazer bewarna pink soft bawahanya rok lipit bewarna pink selutut, stocking putih serta sepatu kets bewarna pink soft. Rambut panjangnya dia kuncir kuda tak lupa tas ransel bewarna hijau tosca kesayangannya.
            Langkahnya terhenti saat melihat seorang yang dia kenali. Yup itu tepat di sebrang jalan berdiri seorang namja yang ber-name-tage Oh Sehun sedang mengantar adik kesayanganya yang bernama Oh Se In berangkat sekolah. Sae Na memutuskan untuk menghampiri mererka untuk bertegur sapa.
            “ Annyeong haseo Sae In-ah” sapa Sae Na. Namja imut tersebut lalu buru-buru memeluk kaki Sae Na dengan tatapan memelas.
            “ Sae Na Noona, Mmm Se Hun Hyung tidak memperbolehkanku makan permen” kata namja berpakaian seragam Tk. Sae Na berjongkok agar menyamakan tinggi namja imut yang memeluk kakinya dengan erat.
            Tangan Sae Na mengusap pipi gembul Sae In kemudia tersenyum cerah. “ Se In harus menurut kepada Se Hun hyung, nanti Se Hun hyung akan senang mempunyai dongsaeng pintar sepertimu” nasihat Sae Na yang diakhiri cubitan pada hidung Se In.
            “ Dengarkan itu Se In!” sahut Se Hun yang dari tadi diam menatap kedua makhluk pendek dihadapanya. Se In hanya mengagguk sambil mengusap hidungnya.
            “ Noona maukah noona mengantar Se In kesekolah?” pintan Se In memelas.
 “ Ani, Sae Na noona ingin berangkat kesekolahnya, biar hyung saja yang mengantarkanmu” balas Sehun cepat.
“ Gwenchana, aku akan mengantar Se In dengan senang hati” jawab Sae Na bersemangat.
“ Jinjja?” tanya Se In memastikan dengan mata berbinar dan dijawab anggukan kepala Sae Na. Akhirnya mereka berdua mengantarkan Se In kesekolahnya. Selepas mengantar mereka berdua kembali menuju ke sekolah. Sesampainya di dekat toko penjual perlengkapan natal yang hanya di buka sehari dalam setahun tentunya pada hari natal, mereka dapat melihat salah seorang namja yang merupakan teman satu sekolah mereka.
Namja dengan seragam tak beraturan rambut acak-acakan dan terdapat lingkaran hitam di kedua matanya yang dilindungi kacamata. Jalannya sempoyongan khas orang mabuk. Dia berusaha mendekat kearah Se Hun dan Sae Na dengan jarak tiga puluh meter. Tapi belum sempat dia menghampiri temnanya tiba-tiba.
BRUK
“ Aaaaaaaaaaaaaaaaa!”
>< 
Sae Na POV
            Hari ini aku berangkat lebih awal dari biasanya. Yup, sekarang waktu yang paling kutunggu kapan lagi bias menghirup oksigen dengan rakus pada pagi hari tanpa harus berebut dengan kumpulan asap tebal yang menyesakkan. Beberapa kali aku bersiul untuk menghilangi kebosanan.
            Karena sudah puas berkeliling di taman kota kuputuskan untuk beranjak ke sekolah. Mataku sempat melihat sosok kakak-beradik yang kukenal, kupetajam penglihatan seperti seorang pemburu yang hendak menombak seekor anak rusa untuk dijadikan makan malam. Benar dugaanku itu Se Hun dan dongsaengnya yang baru-baru kukenal, jika tidak salah ingat dongsaeng Se Hun bernama Se In.
            Sepertinya menyapa mereka berdua di pagi ini tak masalah?. Akhirnya kulangkahkan kakiku menuju kedua namja tersebut. “ Annyeong haseo Sae In-ah” sapaku terhadap namja imut dengan seragam khas taman kanak-kanak. Namja imut tersebut tiba-tiba memeluk kakiku, hampir saja aku terjatuh kalau saja aku tidak pandai mengendalikan keseimbangan.
            “ Sae Na Noona, Mmm Se Hun Hyung tidak memperbolehkanku makan permen” adu namja yang bernama Se In tersebut dengan tatapan memelas. Aku mgerutkan dahi lalu berjongkok agar menyamai tubuh namja didepanku. Tanganku terulur mengusap pipi gembulnya sambil tersenyum.
            Kunasehati dia dan hanya dibalas anggukan lucu. Se in memintaku untuk mengantarnya kesekolah, lalu kusetujui. Kami bertiga langsung menuju salah satu taman kanak-kanak. Setelah mengantarkan Se In sampai pintu gerbang aku dan Se Hun lalu berangkat kesekolah.
            “ Kau tahu! Aku merasa kesal karena toko ini hanya buka sekali selama setahun dan disaat buka aku malah tidak ada di Seoul” protes Se Hun saat kami melewati bangunan tua bercat merah yang sudah memudar serta di bagian jendela besar yang biasa dipakai untuk memajang barang jualan terdapat sebuah tulisan ‘ Marry Christmass’. Sebenarnya aku juga sependapat dengan Se Hun karena pada tahun lalu aku tak sempat masuk kedalam toko lantaran banyaknya pengunjung yang datang.
            “ Memang selama natal kamu pergi kemana?” tanyaku penasaran. Dia terdiam, lalu tangan kanannya dia angkat kemudian jari telunjuknya mulai mengetuk bagian dagu pertanda jika saat ini dia sedang berfikir.
            “ Aku pergi ke Swiss untuk mengunjungi Harabeoji-ku lalu terbang ke Busan untuk merayakan natal bersama keluarga besar appa setiap tahun” jawabnya. “ Kalau kamu natal kemana saja?” lanjutnya.
            Kini aku yang mulai berfikir.” Aku hanya berdiam diri di rumah menikmati masakan umma-ku bersama appa, jika ada waktu Hwang Joong-ah, Min Ri-ah, So Jung-ah, Se Young-ah atau bahkan Sung Ri-ah mereka akan mengajaku untuk pergi belanja bersama”. Se Hun hanya merespon dengan anggukan.
            “ Kau tahu? Tak kusangka Hwang Joong-ssi mau melakukan hal-hal berbau perempuan. Sejujurnya, aku dan para siswa laki-laki disekolah pernah mengadakan ritual untuk mengetahui jenis kelamin yang dimiliki temanmu tersebut. Kami semua meyakini bahwa temanmu tersebut dulunya seratus persen laki tapi dia berubah menjadi transgender” terang Se Hun. Aku berusaha menahan tawa ketika mendengarnya, jika Hwang Joong berada disini pasti bocah tersebut tak segan-segan mempraktekan salah satu jurus taekwondonya pada Se Hun.
            “ Hwang Joong-ah itu beneran perempuan dari lahir. Aku pernah melihat foto masa kecilnya”. Jika di ingat ingat masa kecil Hwang Joong sangatlah absurd. Jika dimana-mana seorang gadis kecil berusaha berdandan cantik khas orang dewasa tapi Hwang Joong malah merusak citra gadis kecil cantik yang sudah di pertahankan oleh kaum hawa sejak zaman dahulu.
            Selembar foto yang menampilkan seorang gadis yang lumayan tinggi, berkulit putih dengan sebuah handsaplast bergambar dinosaurus ( maaf sebut merk, habis gak tau nama aslinya) di pipi sebelah kiri, rambut pendek sebahu acak-acak atau yang bisa disamakan dengan orang yang habis terkena sengatan listrik tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi yang berlubang dan beberapa gigi bewarna hitam. Baju yang dikenakkan juga asal-asalan. Tangannya menggendong salah satu reptile yang bernama iguana.
            “ Hwang Joong-ah sebenarnya seorang gadis yang terjebak dalam masa lalunya yang menyebabkan dirinya harus bersikap dingin dan dibenci semua orang. Dia pernah bilang jika setiap malam terkadang dia suka menangis mengingat iguana tersayangnya telah tiada” terangku.
            “ Lihat! Bukanya itu Baek So?” teriak Se Hun sambil menunjuk belakangku. Aku mengikuti arah yang di maksud.
            Disana tepat beberapa meter dariku seorang namja berkacamata yang kukenal berubah menjadi joker di film batman. Rambut berserta pakaiannya acak-acakan dengan kantung mata bewarna hitam, tak hanya itu dia juga berjalan sempoyongan mengingatkanku akan sesosok G-Dragon di Mv Croocked. Aku sempat berfikir jika dia adalah generasi G-dragon.
            Namja tersebut berusaha menggapaiku dan Se Hun dari jarak sejauh itu. Tanganya tak bisa diam dan selalu saja bergerak gelisah. Tubuhku ketakutan dan mulai bersembunyi dibalik tubuh tinggi Se Hun. Saat jarak semakin dekat.
BRUK!
            Sebuah papan iklan tua jatuh menimpanya. Darah-darah mulai bertebaran seketika memenuhi tempat kejadian. Seiring dengan jatuhnya papan iklan tersebut aku mulai berteriak keras. Air mataku tiba-tiba mengalir deras saat melihat keadaan salah seorang temanku meninggal di depan mata.
            Dengan secepat kilat Se Hun membawaku kedalam dekapanya berusaha untuk menghalangi pemandangannya mengenaskan yang terjadi. Tangannya mengusap punggungku membuat diriku tenang tapi yang ada tangisanku malah meledak. Sambil memelukku erat se Hun  mengambil telpon gengamnya dari saku dan menelepon ambulan.
>< 
            Se Young menikmati sarapan paginya di kantin sekolah lantaran ummanya tidak dapat memasak pada hari ini dikarenakan sakit. Semangkuk bubur kacang merah serta segelas susu vanilla kesukaanya. Tiba-tiba handphone Se Young bergetar dan memunculkan lagu The Gost Of Wind milik boyband Ze:A yang menandakan ada telpon masuk. Terdapat nama ‘ Aegyeo Sae Na Calling’ di layar telponnya. Setelah menekan layar tersebut untuk melakukan panggilan Se Young mendekatkan telfon gengamnya di telinga kanan.
            “Aegyeo Sae Na Calling’ di layar telponnya. Setelah menekan layar tersebut untuk melakukan panggilan Se Young mendekatkan telfon gengamnya di telinga kanan.
            “Yeoboseo?” sapa Se Young.
            “ Ah, ne aku sedang sarapan di sekolah, wae?”
            “ Mwo!? Han Baek So…”

Selesai chap 9 (A) tunggu kisah lanjtanya di chap 9 (B). Terimakasih yang sudah membuka blog ini walau hanya sekedar melihat tanpa membaca. Akhir-akhir ini saya kebanyakan tugas yang menumpuk. Seperti kata shikamaru sekolah itu merepotkan. Btw Naruto ending pada episode ke 700. Terimakasih kuucapkan atas jasa-jasa ninja konoha yang telah mengajariku banyak hal tentang kebersamaan, ketidak putus asaan dan persahabatan.

Chap 9 (B) coming soon~

Minggu, 02 November 2014

Crazy Dreams Come True Chap8

Diposting oleh zahra natasya di 06.16 3 komentar
Perhatian:
Maafkan saya jika ada kesalahan kata pada chap ini.
Maafkan saya yang terlalu lama updatednya.
Maafkan saya jika chap ini tidak memuaskan.
Selamat membaca bagi yang berminat, jika tidak silahkan tekan tombol kembali pada gadget anda.
#Setanalasdeath
#Prayformyphone
> 
< 
> 
< 
Malam semakin larut, So Jung baru saja membersihkan diri langsung berbaring diatas kasur empuknya. Badanya berusaha untuk memposisikan dirinya dengan nyaman. Pekerjaan hari ini menyita waktunya untuk membuka social media yang dia miliki. Karena tidak ada kerjaan, So Jung membuka akun Friends Store Line yang baru-baru ini dia buat.
            Jarinya dengan lihai mengetik username dan password, kemudian terdapat tulisan ‘loading’ pada layar laptop kesayanganya. Beberapa detik kemudian halaman utama telah muncul dan terdapat banyak status-status beraneka ragam. Tak mau kalah So Jung juga membuat salah satu status.
     “Hari yang melelahkan”.
            Beberapa saat muncul komen dari teman-temanya.
            MinRiChoi=Fighting!”
     SungRi209= Fighting (‘3’)/ “
     SaeNavr=  “ Jinnja?”
HJ1803=  “ ani”
SaeNavr= “ Hwang joong kau harus memakai bajunya”
HJ1803= “ shireo!”
MinRiChoi= “ Mwo!? Baju? Kita dapat seragam baru?”
HJ1803= “ Ne, Sae Na dan Se Hun yang memilihnya tadi,
 Jika boleh aku sarankan jangan pernah pakai baju itu”
     QOSJung= “wae?”
     SungRi209= “ jangan dengarkan Hwang Joong!”
     Parkseyoung= “ Annyeonghaseo!^^”
     HJ1803= “ asal kalian tau bajunya warna pink mencolok”
     QOSJung= “ Mwo? Pink, aku suka pink”
     Parkseyoung= “ Kalian ngomongin apa?”
     MinRiChoi= “ Annyeong Se Young-ah”
     Parkseyoung= “ Annyeong Min Ri-ah”
     HJ1803= “ Sudah diam, kalian mengganggu ketenanganku”
     SaeNavr= “ Hwang Joong, please…”
     HJ1803= “ Shireo!”
     SaeNavr= “ please *bbuing-bbuing”
            Jarum pendek berhenti diangka delapan dan jarum panjang berada diangka sepuluh. Mata So Jung juga mulai menutup perlahan. Kadang kala dia juga menguap menandakan sudah waktunya untuk berbaring diatas kasur, mematikan lampu, bersembunyi di bawah selimut tebal dan mulai menutup mata.
TING
            Tiba-tiba sebuah chat muncul di halaman beranda. Mau tak mau So Jung harus membukanya siapa tahu itu penting.
JeonKookie77 message1
            Mata So Jung yang semula ingin menutup langsung terbuka lebar.
JeonKookie77= “ Annyeong Kristal-ssi”
            Buru-buru So Jung dengan cekatan mengetik balasan.
QOSJung= annyeong jiminie”
JeonKookie77=Kau belum tidur?. ayo cepat tidur sekarang sudah larut malam!, nanti bisa sakit”
QOSJung= “ Siap”
     Setelah membaca pesan tersebut So Jung mulai menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut tebal dan larut dengan mimpi indahnya.
                                                                        ><
            Malam ini Hee Byul makan malam bersama sepupunya hanya berdua. Katanya ada beberapa hal yang ingin ditanyakan oleh sepupunya. Hee Byul sempat tidak percaya jika sepupunya mengajak makan malam bersama.
            Hwang Joong memilih kedai dekat taman bermain sewaktu ia kecil sebagai tempat makan malamnya. Kedai ini tidak terlalu buruk, walaupun angin malam tetap saja berhembus dengan kencang. Sudah dari kecil Hwang Joong selalu ke tempat ini untuk sekedar mencoba beberapa makanan tradisional korea atau cuma sekedar minum teh hangat.
            “ Hwang Joong-ah apa itu kau?” tanya seorang nenek-nenek yang memakai apron hijau bermotif bunga matahari. Nenek-nenek tersebut menghampiri Hwang Joong yang baru saja datang.
            “ Halmeoni lama tak berjumpa, apa halmeoni sehat?” jawab Hwang Joong lalu memeluk nenek-nenek tersebut.
            “ Halmeoni sehat, oh kau membawa temanmu juga?” tanya-nya sambil berjalan mendekati Hee Byul.
            “ Ani, dia itu sepupuku”
            “ Jinnja? Ayo silahkan duduk”
            “ Ghamsahamnida” jawab Hee Byul.
            “ Jadi kalian ingin makan apa?”
            “ Aku pesan odeng, bungeoppang pasta kacang merah, gyeranppang, dan hweori gamja” kata Hwang Joong semangat. Hee Byul hanya cengo ketika pesanan sang sepupu banyak sekali, tak disangka.
            “ Aku pesan bibimbap” kata Hee Byul. Halmeoni tersebut dengan cekatan emnuliskan pesana kedua pelangganya tersebut lalu pergi menuju area masak.
            “ Kau tau? Kedai ini berdiri sejak aku masih duduk di taman kanak-kanak. Dulu aku sering bermain di taman bermain itu bersama Joong Hyun-hyung sewaktu kecil” kata Hwang Joong sambil menunjukan jari telunjukannya kearah taman bermain. Hee Byul hanya menganggukan kepala.
            “ Hwang Joong-ssi kenapa kau menyebut Joong Hyun oppa dengan sebutan ‘hyung’?”
            “ Itu karena aku tidak mau mengakui jika dia kakak kandungku, karena dia terlalu lemah untuk menjadi seorang kakak”
            “ Tapi, diakan kakak-mu jadi kau harus menerimanya apa adanya”
            “ Itu tidak pernting. Sekarang coba ceritakan kisah hidupmu sebelum kau menjadi sepupuku?”
            “ Mmm, aku hidup sebatang kara, kedua orang tuaku sudah meninggal akibat kecelakaan mobil saat malam natal. Aku hidup di panti asuhan di daerah Busan. Di sana aku menemukan cinta pertamaku namanya…” belum sempat Hee Byul melanjutkan pembicaraanya pesanan mereka sudah siap.
            Hwang Joong dengan mata berbinar langsung memakan bungeoppang dengan lahap seakan-akan hanya itu saja yang tersisa di dunia ini. Karena sepupunya makan dengan rakus diam-diam Hee Byul mengeluarkan telfon gengamnya dan memotretnya.
            “ Aku tak peduli dengan cinta pertamamu, sekarang coba ceritakan keseharianmu” pinta Hwang Joong dengan mulut penuh dengan makanan.
            “ Aku selalu membersihkan kebun menemani bibi kang berbelanja membersihkan kamar mandi menjaga bayi yang ada disana sampai akhirnya aku bertemu dengan ajumma-mu. Aku sangat senang mendapat orang tua baru tapi aku juga merasa sedih harus terpisah dengan orang-orang yang berada di panti dan juga harus terpisah dengan cinta pertamaku” terang Hee Byul sedih. Tangannya yang semula mengaduk bibimbap kini berhenti.
            “ Baiklah lebih baik kita lanjutkan makan malamya” saran Hwang Joong. Kemudian mereka melanjutkan makan malam tanpa ada suara apapung kecuali dentingan sendok dan para pengunjung yang datang.
                                                                        ><
            “ Kurang telur dan gula” guman Min Ri sambil memperhatikan barang belanjaanya. Kini dia berada di salah satu supermarket dekat rumahnya. Kalau saja ibunya yang baik hati tidak menyuruhnya pergi berbelanja malam ini dia pasti sudah tidur.
            “ Apakah ini saja?” tanya sang kasir. Min Ri hanya mengangguk dan sibuk memindahkan barang-barang yang berada di trollynya tanpa mempedulikan si penjaga kasir.
            “ Hasilnya 20.000won” kata si penjaga kasir. Min Ri menyerahkan beberapa lembar uang dan langsung membawa barang belanjaannya keluar supermarket.
            Saat si penjaga kasir ingin memberikan uang kembalian si pembeli sudah pergi, jadi mau tak mau dia harus mengejarnya.
            Tak disangka malam-malam begini Min Ri berpapasan dengan kedua temanya. Hwang Joong dan Hee Byul.
            “ Kalian darimana?” tanya Min Ri.
            “ Kita habis makan malam” jawab Hee Byul ramah.
            “ Tumben sekali kau makan malam bersama sepupumu? Bahkan bersama kakakkmu sendiri tidak pernah makan malam berdua?”.
            “ Bukan urusanmu” sahut Hwang Joong.
Noona!. Medengar teriakan tersebut mereka beritga mencari sumber suara tersebut. Seorang namja berkacamata dengan seragam berwarna merah sedang berlari menuju kearah mereka.
            “ Kau!” teriak Min Ri tidak percaya.
            “ Ne ini aku” kata namja tersebut setelah sampai.
            “ Kenapa aku harus selalu bertemu dengamu?” kesal Min Ri.
            “ Cih, aku kesini hanya ingin mengantarkan kembalianmu, pabbo!” sahut namja tersebut sambil menyerahkan beberapa lembar uang kearah Min Ri.
            Hwang Joong menatap mereka berdua dengan tatapan bosan sedangkan Hee Byul berusaha mengingat-ingat namja tersebut. Sepertinya dia pernah melihat namja tersebut sampai akhirnya.
            “ Kim Seok Jin?” tanya Hee Byul hati-hati. Namja tersebut menoleh kearah Hee Byul. Sontak kedua mata mereka berdua melebar saat bertemu. Mereka sama-sama sock.
            “ Hee Byul-ah”
Yee selesai juga chapter 8. Bener-bener menguras ide nih. Buat kalian yang penasaran sebenarnya apa hubungan Hee Byul dan Jin. Mengapa mereka saling mengenal?. Dan sebuah kejadian yang merengut nyawa salah satu teman Hwang Joong. Tunggu di chap 9.
Doakan semoga saya dapat di beri ide yang bagus. Makin giat belajar dan move on dari fanfic-fanfic yang selalu menemaniku kapan dan dimana saja. Doakan juga semoga hp tersayang saya cepat sembuh dari penyakit hardware. Sudah dua minggu ini hp saya menginap di salah satu rumah sakit khusus gadget di daerah Surabaya. #amin

Chap 9 Coming Soon
 

Zara's Blog Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei