Perhatian:
Maaf jika ada kesalahn kata.
Dilarang copas alur cerita
100% brainmade
No like no read, and please get out
#PrayForMyPhone
>
<
>
<
TENG
TENG
24.00pm
Hee
Byul POV.
Kini aku masih terbaring ditempat
tidur milik sepupuku-Hwang Joong. Sudah tengah malam tapi kedua mataku sulit
sekali untuk menutup. Mataku melirik kearah sofa, siapa tahu Hwang Joong masih
belum tidur. Namun perkiraanku salah, kini Hwang Joong sedang terbaring dengan
kaki kanan bertengger di lengan sofa sedangkan kaki kirinya di biarkan
menyentuh permukaan lantai yang dingin. Mulutnya terbuka sedikit, kadang
dengkuran halus keluar membuatku terkikik geli.
Kuambil handphone yang berada di
meja nakas dan berjalan mengendap-endap mendekati sepupuku itu.
CKLIK
Sebuah foto kuambil lagi. Menurutku
menfoto orang yang kusayangi adalah hobiku sejak dulu. Kakiku melangkah
menjahui Hwang Joong dan menaiki kasur. Tubuhku mulai terbaring, tiba-tiba
selintas peristiwa tadi dengan seenaknya lewat begitu saja di dalam otakku.
Flashback on
Udara malam berhasil menembus mantel
merah maron tebal milikku. Kurapatkan mantel tersebut beserta menenggelamkan
setengah wajahku di balik syal. Kulirik Hwang Joong yang berada di sebelahku.
Dia hanya memakai celana jeans dan t-shirt hitam tipis di balut dengan jaket
biru dongker yang kuyakini sama tipisnya dengan t-shirt yang ia kenakan. Wajahnya tak menampilkan kedingan sama
sekali. Aku sempat bertanya sewaktu kami ingin pergi makan malam berdua dan dia
hanya menjawab “ Sudah biasa “.
Kami berhenti disalah satu kedai di
dekat taman kanak-kanak dan taman bermain. Ternyata pemilik kedai tersebut
akrab dengan Hwang Joong membuatku merasa terasingkan ketika kedua orang
tersebut bercerita. Hwang Joong bilang kedai ini sudah ada ketika dia masih ditaman
kanak-kanak. Dulu dia sering mampir kesini bersama Kim ajumma dan Joong Hyun
oppa.
Beberapa pertanyaan keluar dari
mulut Hwang Joong. Dari kepribadian, sikap, bahkan hal-hal yang menyangkut
tentang appa-ku. Aneh sih? Tapi meski begitu aku menjawabnya antusias. Setelah
menghabiskan beberapa jam di situ akhirnya kami pulang.
Ditengah perjalanan tampak seorang
yeoja sedang membawa kantung belanjaan dengan kewalahan. Aku menghampirinya dan
ternyata itu Min Ri-ah teman baruku. Yeoja dengan blush-on pink menyala tersebut menyapa kami. Aku membalas sapaannya
sedangkan Hwang Joong tentu saja tidak akan pernah sekalipun menegur ataupun
membalas sapaan jika tidak penting jadi intinya dia tidak merespon sapaan Min
Ri.
Kami bertiga atau lebih tepatnya berdua
(min Hwang Joong) sempat berbincang sebentar. Dengan seenak jidatnya ada
seorang namja yang berteriak di belakang Min Ri. Sepertinya aku pernah mengenal
suara itu tapi entah kapan, kurasa sudah lama sekali aku mendengar suara itu.
Karena aku masih sibuk berkutat dengan pikiranku tanpa di sadari namja yang
berteriak tadi sudah berada di depan Min Ri.
Kuamati postur tubuhnya apalagi
dengan kacamata persegi panjang berwarna merah maron di sampingnya tersebut
terlihat tak sing bagiku. Mata sipit dengan bola mata cokelat terang, bibir
tipis dan sebuah goresan yang berada di bagian leher. Tak salah lagi kini tepat
dihadapanku berdiri namja yang amat sangat aku rindukan.
“ Kim Seok Jin?” kataku hati-hati.
Namja tersebut lalu menoleh kearahku. Saat mata kami bertemu tampak kedua belah
pihak masih sama-sama shock terutama bagiku. Sesegera mungkin namja tersebut
mengalihkan pandangan.
“ Hee Byul?” setelah mengucapkan itu
dia langsung berlari meninggalkan kami.
Flashback of
Rasa kantukku mulai menjalar
gara-gara aku masih memikirkan kejadian tadi. Dengan enggan aku menutup mata
lalu bersembunyi di balik selimut tebal bermotif mata saringan ( mata milik
keluarga uchiha yang terdapat di anime naruto).
><
Matahari belum mau menampakan
dirinya, namun kini Sae Na sudah berangkat kesekolah. Memang sih, rumahnya
tidak jauh dari sekolah tapi bagi Sae Na berjalan di pagi hari yang cerah ini
merupakan surge udara. Kakinya yang kecil membawanya menuju taman kota. Seragam
yang diakenakan berupa kemeja berlengan pendek bewarna putih di tengah bagian
leher terdapat pita bewarna pink putih dengan blazer bewarna pink soft bawahanya
rok lipit bewarna pink selutut, stocking putih serta sepatu kets bewarna pink soft. Rambut
panjangnya dia kuncir kuda tak lupa tas ransel bewarna hijau tosca
kesayangannya.
Langkahnya terhenti saat melihat
seorang yang dia kenali. Yup itu
tepat di sebrang jalan berdiri seorang namja yang ber-name-tage Oh Sehun sedang
mengantar adik kesayanganya yang bernama Oh Se In berangkat sekolah. Sae Na
memutuskan untuk menghampiri mererka untuk bertegur sapa.
“ Annyeong haseo Sae In-ah” sapa Sae
Na. Namja imut tersebut lalu buru-buru memeluk kaki Sae Na dengan tatapan
memelas.
“ Sae Na Noona, Mmm Se Hun Hyung
tidak memperbolehkanku makan permen” kata namja berpakaian seragam Tk. Sae Na
berjongkok agar menyamakan tinggi namja imut yang memeluk kakinya dengan erat.
Tangan Sae Na mengusap pipi gembul
Sae In kemudia tersenyum cerah. “ Se In harus menurut kepada Se Hun hyung,
nanti Se Hun hyung akan senang mempunyai dongsaeng pintar sepertimu” nasihat
Sae Na yang diakhiri cubitan pada hidung Se In.
“ Dengarkan itu Se In!” sahut Se Hun
yang dari tadi diam menatap kedua makhluk pendek dihadapanya. Se In hanya
mengagguk sambil mengusap hidungnya.
“ Noona maukah noona mengantar Se In
kesekolah?” pintan Se In memelas.
“ Ani, Sae Na noona ingin berangkat
kesekolahnya, biar hyung saja yang mengantarkanmu” balas Sehun cepat.
“
Gwenchana, aku akan mengantar Se In dengan senang hati” jawab Sae Na
bersemangat.
“
Jinjja?” tanya Se In memastikan dengan mata berbinar dan dijawab anggukan
kepala Sae Na. Akhirnya mereka berdua mengantarkan Se In kesekolahnya. Selepas mengantar
mereka berdua kembali menuju ke sekolah. Sesampainya di dekat toko penjual
perlengkapan natal yang hanya di buka sehari dalam setahun tentunya pada hari
natal, mereka dapat melihat salah seorang namja yang merupakan teman satu
sekolah mereka.
Namja
dengan seragam tak beraturan rambut acak-acakan dan terdapat lingkaran hitam di
kedua matanya yang dilindungi kacamata. Jalannya sempoyongan khas orang mabuk.
Dia berusaha mendekat kearah Se Hun dan Sae Na dengan jarak tiga puluh meter.
Tapi belum sempat dia menghampiri temnanya tiba-tiba.
BRUK
“
Aaaaaaaaaaaaaaaaa!”
><
Sae
Na POV
Hari ini aku berangkat lebih awal
dari biasanya. Yup, sekarang waktu yang paling kutunggu kapan lagi bias
menghirup oksigen dengan rakus pada pagi hari tanpa harus berebut dengan
kumpulan asap tebal yang menyesakkan. Beberapa kali aku bersiul untuk
menghilangi kebosanan.
Karena sudah puas berkeliling di
taman kota kuputuskan untuk beranjak ke sekolah. Mataku sempat melihat sosok
kakak-beradik yang kukenal, kupetajam penglihatan seperti seorang pemburu yang
hendak menombak seekor anak rusa untuk dijadikan makan malam. Benar dugaanku
itu Se Hun dan dongsaengnya yang baru-baru kukenal, jika tidak salah ingat
dongsaeng Se Hun bernama Se In.
Sepertinya menyapa mereka berdua di
pagi ini tak masalah?. Akhirnya kulangkahkan kakiku menuju kedua namja
tersebut. “ Annyeong haseo Sae In-ah” sapaku terhadap namja imut dengan seragam
khas taman kanak-kanak. Namja imut tersebut tiba-tiba memeluk kakiku, hampir
saja aku terjatuh kalau saja aku tidak pandai mengendalikan keseimbangan.
“ Sae Na Noona, Mmm Se Hun Hyung
tidak memperbolehkanku makan permen” adu namja yang bernama Se In tersebut
dengan tatapan memelas. Aku mgerutkan dahi lalu berjongkok agar menyamai tubuh
namja didepanku. Tanganku terulur mengusap pipi gembulnya sambil tersenyum.
Kunasehati dia dan hanya dibalas anggukan
lucu. Se in memintaku untuk mengantarnya kesekolah, lalu kusetujui. Kami
bertiga langsung menuju salah satu taman kanak-kanak. Setelah mengantarkan Se
In sampai pintu gerbang aku dan Se Hun lalu berangkat kesekolah.
“ Kau tahu! Aku merasa kesal karena
toko ini hanya buka sekali selama setahun dan disaat buka aku malah tidak ada
di Seoul” protes Se Hun saat kami melewati bangunan tua bercat merah yang sudah
memudar serta di bagian jendela besar yang biasa dipakai untuk memajang barang
jualan terdapat sebuah tulisan ‘ Marry Christmass’. Sebenarnya aku juga
sependapat dengan Se Hun karena pada tahun lalu aku tak sempat masuk kedalam
toko lantaran banyaknya pengunjung yang datang.
“ Memang selama natal kamu pergi
kemana?” tanyaku penasaran. Dia terdiam, lalu tangan kanannya dia angkat
kemudian jari telunjuknya mulai mengetuk bagian dagu pertanda jika saat ini dia
sedang berfikir.
“ Aku pergi ke Swiss untuk
mengunjungi Harabeoji-ku lalu terbang ke Busan untuk merayakan natal bersama
keluarga besar appa setiap tahun” jawabnya. “ Kalau kamu natal kemana saja?”
lanjutnya.
Kini aku yang mulai berfikir.” Aku
hanya berdiam diri di rumah menikmati masakan umma-ku bersama appa, jika ada
waktu Hwang Joong-ah, Min Ri-ah, So Jung-ah, Se Young-ah atau bahkan Sung Ri-ah
mereka akan mengajaku untuk pergi belanja bersama”. Se Hun hanya merespon
dengan anggukan.
“ Kau tahu? Tak kusangka Hwang
Joong-ssi mau melakukan hal-hal berbau perempuan. Sejujurnya, aku dan para
siswa laki-laki disekolah pernah mengadakan ritual untuk mengetahui jenis
kelamin yang dimiliki temanmu tersebut. Kami semua meyakini bahwa temanmu
tersebut dulunya seratus persen laki tapi dia berubah menjadi transgender” terang Se Hun. Aku berusaha
menahan tawa ketika mendengarnya, jika Hwang Joong berada disini pasti bocah
tersebut tak segan-segan mempraktekan salah satu jurus taekwondonya pada Se
Hun.
“ Hwang Joong-ah itu beneran
perempuan dari lahir. Aku pernah melihat foto masa kecilnya”. Jika di ingat
ingat masa kecil Hwang Joong sangatlah absurd. Jika dimana-mana seorang gadis
kecil berusaha berdandan cantik khas orang dewasa tapi Hwang Joong malah
merusak citra gadis kecil cantik yang sudah di pertahankan oleh kaum hawa sejak
zaman dahulu.
Selembar foto yang menampilkan
seorang gadis yang lumayan tinggi, berkulit putih dengan sebuah handsaplast bergambar dinosaurus ( maaf
sebut merk, habis gak tau nama aslinya) di pipi sebelah kiri, rambut pendek
sebahu acak-acak atau yang bisa disamakan dengan orang yang habis terkena
sengatan listrik tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi yang berlubang dan
beberapa gigi bewarna hitam. Baju yang dikenakkan juga asal-asalan. Tangannya
menggendong salah satu reptile yang bernama iguana.
“ Hwang Joong-ah sebenarnya seorang
gadis yang terjebak dalam masa lalunya yang menyebabkan dirinya harus bersikap
dingin dan dibenci semua orang. Dia pernah bilang jika setiap malam terkadang
dia suka menangis mengingat iguana tersayangnya telah tiada” terangku.
“ Lihat! Bukanya itu Baek So?”
teriak Se Hun sambil menunjuk belakangku. Aku mengikuti arah yang di maksud.
Disana tepat beberapa meter dariku
seorang namja berkacamata yang kukenal berubah menjadi joker di film batman.
Rambut berserta pakaiannya acak-acakan dengan kantung mata bewarna hitam, tak
hanya itu dia juga berjalan sempoyongan mengingatkanku akan sesosok G-Dragon di
Mv Croocked. Aku sempat berfikir jika dia adalah generasi G-dragon.
Namja tersebut berusaha menggapaiku
dan Se Hun dari jarak sejauh itu. Tanganya tak bisa diam dan selalu saja
bergerak gelisah. Tubuhku ketakutan dan mulai bersembunyi dibalik tubuh tinggi
Se Hun. Saat jarak semakin dekat.
BRUK!
Sebuah papan iklan tua jatuh
menimpanya. Darah-darah mulai bertebaran seketika memenuhi tempat kejadian.
Seiring dengan jatuhnya papan iklan tersebut aku mulai berteriak keras. Air
mataku tiba-tiba mengalir deras saat melihat keadaan salah seorang temanku
meninggal di depan mata.
Dengan secepat kilat Se Hun
membawaku kedalam dekapanya berusaha untuk menghalangi pemandangannya
mengenaskan yang terjadi. Tangannya mengusap punggungku membuat diriku tenang
tapi yang ada tangisanku malah meledak. Sambil memelukku erat se Hun mengambil telpon gengamnya dari saku dan
menelepon ambulan.
><
Se Young menikmati sarapan paginya
di kantin sekolah lantaran ummanya tidak dapat memasak pada hari ini
dikarenakan sakit. Semangkuk bubur kacang merah serta segelas susu vanilla
kesukaanya. Tiba-tiba handphone Se Young bergetar dan memunculkan lagu The Gost
Of Wind milik boyband Ze:A yang menandakan ada telpon masuk. Terdapat nama ‘ Aegyeo
Sae Na Calling’ di layar telponnya. Setelah menekan layar tersebut untuk
melakukan panggilan Se Young mendekatkan telfon gengamnya di telinga kanan.
“Aegyeo Sae Na Calling’ di layar
telponnya. Setelah menekan layar tersebut untuk melakukan panggilan Se Young
mendekatkan telfon gengamnya di telinga kanan.
“Yeoboseo?” sapa Se Young.
“ Ah, ne aku sedang sarapan di
sekolah, wae?”
“ Mwo!? Han Baek So…”
Selesai
chap 9 (A) tunggu kisah lanjtanya di chap 9 (B). Terimakasih yang sudah membuka
blog ini walau hanya sekedar melihat tanpa membaca. Akhir-akhir ini saya
kebanyakan tugas yang menumpuk. Seperti kata shikamaru sekolah itu merepotkan.
Btw Naruto ending pada episode ke 700. Terimakasih kuucapkan atas jasa-jasa
ninja konoha yang telah mengajariku banyak hal tentang kebersamaan, ketidak
putus asaan dan persahabatan.
Chap
9 (B) coming soon~
0 komentar:
Posting Komentar