Sabtu, 08 November 2014

Crazy Dreams Come True chap9 (A)

Diposting oleh zahra natasya di 16.32
Perhatian:
Maaf jika ada kesalahn kata.
Dilarang copas alur cerita
100% brainmade
No like no read, and please get out
#PrayForMyPhone
> 
< 
> 
< 
TENG TENG
24.00pm
Hee Byul POV.
            Kini aku masih terbaring ditempat tidur milik sepupuku-Hwang Joong. Sudah tengah malam tapi kedua mataku sulit sekali untuk menutup. Mataku melirik kearah sofa, siapa tahu Hwang Joong masih belum tidur. Namun perkiraanku salah, kini Hwang Joong sedang terbaring dengan kaki kanan bertengger di lengan sofa sedangkan kaki kirinya di biarkan menyentuh permukaan lantai yang dingin. Mulutnya terbuka sedikit, kadang dengkuran halus keluar membuatku terkikik geli.
            Kuambil handphone yang berada di meja nakas dan berjalan mengendap-endap mendekati sepupuku itu.
CKLIK
            Sebuah foto kuambil lagi. Menurutku menfoto orang yang kusayangi adalah hobiku sejak dulu. Kakiku melangkah menjahui Hwang Joong dan menaiki kasur. Tubuhku mulai terbaring, tiba-tiba selintas peristiwa tadi dengan seenaknya lewat begitu saja di dalam otakku.
Flashback on
            Udara malam berhasil menembus mantel merah maron tebal milikku. Kurapatkan mantel tersebut beserta menenggelamkan setengah wajahku di balik syal. Kulirik Hwang Joong yang berada di sebelahku. Dia hanya memakai celana jeans dan t-shirt hitam tipis di balut dengan jaket biru dongker yang kuyakini sama tipisnya dengan t-shirt yang ia kenakan. Wajahnya tak menampilkan kedingan sama sekali. Aku sempat bertanya sewaktu kami ingin pergi makan malam berdua dan dia hanya menjawab “ Sudah biasa “.
            Kami berhenti disalah satu kedai di dekat taman kanak-kanak dan taman bermain. Ternyata pemilik kedai tersebut akrab dengan Hwang Joong membuatku merasa terasingkan ketika kedua orang tersebut bercerita. Hwang Joong bilang kedai ini sudah ada ketika dia masih ditaman kanak-kanak. Dulu dia sering mampir kesini bersama Kim ajumma dan Joong Hyun oppa.
            Beberapa pertanyaan keluar dari mulut Hwang Joong. Dari kepribadian, sikap, bahkan hal-hal yang menyangkut tentang appa-ku. Aneh sih? Tapi meski begitu aku menjawabnya antusias. Setelah menghabiskan beberapa jam di situ akhirnya kami pulang.
            Ditengah perjalanan tampak seorang yeoja sedang membawa kantung belanjaan dengan kewalahan. Aku menghampirinya dan ternyata itu Min Ri-ah teman baruku. Yeoja dengan blush-on pink menyala tersebut menyapa kami. Aku membalas sapaannya sedangkan Hwang Joong tentu saja tidak akan pernah sekalipun menegur ataupun membalas sapaan jika tidak penting jadi intinya dia tidak merespon sapaan Min Ri.
            Kami bertiga atau lebih tepatnya berdua (min Hwang Joong) sempat berbincang sebentar. Dengan seenak jidatnya ada seorang namja yang berteriak di belakang Min Ri. Sepertinya aku pernah mengenal suara itu tapi entah kapan, kurasa sudah lama sekali aku mendengar suara itu. Karena aku masih sibuk berkutat dengan pikiranku tanpa di sadari namja yang berteriak tadi sudah berada di depan Min Ri.
            Kuamati postur tubuhnya apalagi dengan kacamata persegi panjang berwarna merah maron di sampingnya tersebut terlihat tak sing bagiku. Mata sipit dengan bola mata cokelat terang, bibir tipis dan sebuah goresan yang berada di bagian leher. Tak salah lagi kini tepat dihadapanku berdiri namja yang amat sangat aku rindukan.
            “ Kim Seok Jin?” kataku hati-hati. Namja tersebut lalu menoleh kearahku. Saat mata kami bertemu tampak kedua belah pihak masih sama-sama shock terutama bagiku. Sesegera mungkin namja tersebut mengalihkan pandangan.
            “ Hee Byul?” setelah mengucapkan itu dia langsung berlari meninggalkan kami.
Flashback of
            Rasa kantukku mulai menjalar gara-gara aku masih memikirkan kejadian tadi. Dengan enggan aku menutup mata lalu bersembunyi di balik selimut tebal bermotif mata saringan ( mata milik keluarga uchiha yang terdapat di anime naruto).
>< 
            Matahari belum mau menampakan dirinya, namun kini Sae Na sudah berangkat kesekolah. Memang sih, rumahnya tidak jauh dari sekolah tapi bagi Sae Na berjalan di pagi hari yang cerah ini merupakan surge udara. Kakinya yang kecil membawanya menuju taman kota. Seragam yang diakenakan berupa kemeja berlengan pendek bewarna putih di tengah bagian leher terdapat pita bewarna pink putih dengan blazer bewarna pink soft bawahanya rok lipit bewarna pink selutut, stocking putih serta sepatu kets bewarna pink soft. Rambut panjangnya dia kuncir kuda tak lupa tas ransel bewarna hijau tosca kesayangannya.
            Langkahnya terhenti saat melihat seorang yang dia kenali. Yup itu tepat di sebrang jalan berdiri seorang namja yang ber-name-tage Oh Sehun sedang mengantar adik kesayanganya yang bernama Oh Se In berangkat sekolah. Sae Na memutuskan untuk menghampiri mererka untuk bertegur sapa.
            “ Annyeong haseo Sae In-ah” sapa Sae Na. Namja imut tersebut lalu buru-buru memeluk kaki Sae Na dengan tatapan memelas.
            “ Sae Na Noona, Mmm Se Hun Hyung tidak memperbolehkanku makan permen” kata namja berpakaian seragam Tk. Sae Na berjongkok agar menyamakan tinggi namja imut yang memeluk kakinya dengan erat.
            Tangan Sae Na mengusap pipi gembul Sae In kemudia tersenyum cerah. “ Se In harus menurut kepada Se Hun hyung, nanti Se Hun hyung akan senang mempunyai dongsaeng pintar sepertimu” nasihat Sae Na yang diakhiri cubitan pada hidung Se In.
            “ Dengarkan itu Se In!” sahut Se Hun yang dari tadi diam menatap kedua makhluk pendek dihadapanya. Se In hanya mengagguk sambil mengusap hidungnya.
            “ Noona maukah noona mengantar Se In kesekolah?” pintan Se In memelas.
 “ Ani, Sae Na noona ingin berangkat kesekolahnya, biar hyung saja yang mengantarkanmu” balas Sehun cepat.
“ Gwenchana, aku akan mengantar Se In dengan senang hati” jawab Sae Na bersemangat.
“ Jinjja?” tanya Se In memastikan dengan mata berbinar dan dijawab anggukan kepala Sae Na. Akhirnya mereka berdua mengantarkan Se In kesekolahnya. Selepas mengantar mereka berdua kembali menuju ke sekolah. Sesampainya di dekat toko penjual perlengkapan natal yang hanya di buka sehari dalam setahun tentunya pada hari natal, mereka dapat melihat salah seorang namja yang merupakan teman satu sekolah mereka.
Namja dengan seragam tak beraturan rambut acak-acakan dan terdapat lingkaran hitam di kedua matanya yang dilindungi kacamata. Jalannya sempoyongan khas orang mabuk. Dia berusaha mendekat kearah Se Hun dan Sae Na dengan jarak tiga puluh meter. Tapi belum sempat dia menghampiri temnanya tiba-tiba.
BRUK
“ Aaaaaaaaaaaaaaaaa!”
>< 
Sae Na POV
            Hari ini aku berangkat lebih awal dari biasanya. Yup, sekarang waktu yang paling kutunggu kapan lagi bias menghirup oksigen dengan rakus pada pagi hari tanpa harus berebut dengan kumpulan asap tebal yang menyesakkan. Beberapa kali aku bersiul untuk menghilangi kebosanan.
            Karena sudah puas berkeliling di taman kota kuputuskan untuk beranjak ke sekolah. Mataku sempat melihat sosok kakak-beradik yang kukenal, kupetajam penglihatan seperti seorang pemburu yang hendak menombak seekor anak rusa untuk dijadikan makan malam. Benar dugaanku itu Se Hun dan dongsaengnya yang baru-baru kukenal, jika tidak salah ingat dongsaeng Se Hun bernama Se In.
            Sepertinya menyapa mereka berdua di pagi ini tak masalah?. Akhirnya kulangkahkan kakiku menuju kedua namja tersebut. “ Annyeong haseo Sae In-ah” sapaku terhadap namja imut dengan seragam khas taman kanak-kanak. Namja imut tersebut tiba-tiba memeluk kakiku, hampir saja aku terjatuh kalau saja aku tidak pandai mengendalikan keseimbangan.
            “ Sae Na Noona, Mmm Se Hun Hyung tidak memperbolehkanku makan permen” adu namja yang bernama Se In tersebut dengan tatapan memelas. Aku mgerutkan dahi lalu berjongkok agar menyamai tubuh namja didepanku. Tanganku terulur mengusap pipi gembulnya sambil tersenyum.
            Kunasehati dia dan hanya dibalas anggukan lucu. Se in memintaku untuk mengantarnya kesekolah, lalu kusetujui. Kami bertiga langsung menuju salah satu taman kanak-kanak. Setelah mengantarkan Se In sampai pintu gerbang aku dan Se Hun lalu berangkat kesekolah.
            “ Kau tahu! Aku merasa kesal karena toko ini hanya buka sekali selama setahun dan disaat buka aku malah tidak ada di Seoul” protes Se Hun saat kami melewati bangunan tua bercat merah yang sudah memudar serta di bagian jendela besar yang biasa dipakai untuk memajang barang jualan terdapat sebuah tulisan ‘ Marry Christmass’. Sebenarnya aku juga sependapat dengan Se Hun karena pada tahun lalu aku tak sempat masuk kedalam toko lantaran banyaknya pengunjung yang datang.
            “ Memang selama natal kamu pergi kemana?” tanyaku penasaran. Dia terdiam, lalu tangan kanannya dia angkat kemudian jari telunjuknya mulai mengetuk bagian dagu pertanda jika saat ini dia sedang berfikir.
            “ Aku pergi ke Swiss untuk mengunjungi Harabeoji-ku lalu terbang ke Busan untuk merayakan natal bersama keluarga besar appa setiap tahun” jawabnya. “ Kalau kamu natal kemana saja?” lanjutnya.
            Kini aku yang mulai berfikir.” Aku hanya berdiam diri di rumah menikmati masakan umma-ku bersama appa, jika ada waktu Hwang Joong-ah, Min Ri-ah, So Jung-ah, Se Young-ah atau bahkan Sung Ri-ah mereka akan mengajaku untuk pergi belanja bersama”. Se Hun hanya merespon dengan anggukan.
            “ Kau tahu? Tak kusangka Hwang Joong-ssi mau melakukan hal-hal berbau perempuan. Sejujurnya, aku dan para siswa laki-laki disekolah pernah mengadakan ritual untuk mengetahui jenis kelamin yang dimiliki temanmu tersebut. Kami semua meyakini bahwa temanmu tersebut dulunya seratus persen laki tapi dia berubah menjadi transgender” terang Se Hun. Aku berusaha menahan tawa ketika mendengarnya, jika Hwang Joong berada disini pasti bocah tersebut tak segan-segan mempraktekan salah satu jurus taekwondonya pada Se Hun.
            “ Hwang Joong-ah itu beneran perempuan dari lahir. Aku pernah melihat foto masa kecilnya”. Jika di ingat ingat masa kecil Hwang Joong sangatlah absurd. Jika dimana-mana seorang gadis kecil berusaha berdandan cantik khas orang dewasa tapi Hwang Joong malah merusak citra gadis kecil cantik yang sudah di pertahankan oleh kaum hawa sejak zaman dahulu.
            Selembar foto yang menampilkan seorang gadis yang lumayan tinggi, berkulit putih dengan sebuah handsaplast bergambar dinosaurus ( maaf sebut merk, habis gak tau nama aslinya) di pipi sebelah kiri, rambut pendek sebahu acak-acak atau yang bisa disamakan dengan orang yang habis terkena sengatan listrik tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi yang berlubang dan beberapa gigi bewarna hitam. Baju yang dikenakkan juga asal-asalan. Tangannya menggendong salah satu reptile yang bernama iguana.
            “ Hwang Joong-ah sebenarnya seorang gadis yang terjebak dalam masa lalunya yang menyebabkan dirinya harus bersikap dingin dan dibenci semua orang. Dia pernah bilang jika setiap malam terkadang dia suka menangis mengingat iguana tersayangnya telah tiada” terangku.
            “ Lihat! Bukanya itu Baek So?” teriak Se Hun sambil menunjuk belakangku. Aku mengikuti arah yang di maksud.
            Disana tepat beberapa meter dariku seorang namja berkacamata yang kukenal berubah menjadi joker di film batman. Rambut berserta pakaiannya acak-acakan dengan kantung mata bewarna hitam, tak hanya itu dia juga berjalan sempoyongan mengingatkanku akan sesosok G-Dragon di Mv Croocked. Aku sempat berfikir jika dia adalah generasi G-dragon.
            Namja tersebut berusaha menggapaiku dan Se Hun dari jarak sejauh itu. Tanganya tak bisa diam dan selalu saja bergerak gelisah. Tubuhku ketakutan dan mulai bersembunyi dibalik tubuh tinggi Se Hun. Saat jarak semakin dekat.
BRUK!
            Sebuah papan iklan tua jatuh menimpanya. Darah-darah mulai bertebaran seketika memenuhi tempat kejadian. Seiring dengan jatuhnya papan iklan tersebut aku mulai berteriak keras. Air mataku tiba-tiba mengalir deras saat melihat keadaan salah seorang temanku meninggal di depan mata.
            Dengan secepat kilat Se Hun membawaku kedalam dekapanya berusaha untuk menghalangi pemandangannya mengenaskan yang terjadi. Tangannya mengusap punggungku membuat diriku tenang tapi yang ada tangisanku malah meledak. Sambil memelukku erat se Hun  mengambil telpon gengamnya dari saku dan menelepon ambulan.
>< 
            Se Young menikmati sarapan paginya di kantin sekolah lantaran ummanya tidak dapat memasak pada hari ini dikarenakan sakit. Semangkuk bubur kacang merah serta segelas susu vanilla kesukaanya. Tiba-tiba handphone Se Young bergetar dan memunculkan lagu The Gost Of Wind milik boyband Ze:A yang menandakan ada telpon masuk. Terdapat nama ‘ Aegyeo Sae Na Calling’ di layar telponnya. Setelah menekan layar tersebut untuk melakukan panggilan Se Young mendekatkan telfon gengamnya di telinga kanan.
            “Aegyeo Sae Na Calling’ di layar telponnya. Setelah menekan layar tersebut untuk melakukan panggilan Se Young mendekatkan telfon gengamnya di telinga kanan.
            “Yeoboseo?” sapa Se Young.
            “ Ah, ne aku sedang sarapan di sekolah, wae?”
            “ Mwo!? Han Baek So…”

Selesai chap 9 (A) tunggu kisah lanjtanya di chap 9 (B). Terimakasih yang sudah membuka blog ini walau hanya sekedar melihat tanpa membaca. Akhir-akhir ini saya kebanyakan tugas yang menumpuk. Seperti kata shikamaru sekolah itu merepotkan. Btw Naruto ending pada episode ke 700. Terimakasih kuucapkan atas jasa-jasa ninja konoha yang telah mengajariku banyak hal tentang kebersamaan, ketidak putus asaan dan persahabatan.

Chap 9 (B) coming soon~

0 komentar:

Posting Komentar

 

Zara's Blog Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei