Perhatian:
Dilarang copas cerita ini
Maafkan saya yang updatenya lama
banget.
Maaf jika ini cerita tidak
memuaskan para pembaca.
Maaf jika ada kesalahan kata
Berikan COMENT setelah membaca
Gomawo/xie-xie/arigatou/terimakasih
Se
Young POV.
Setelah mendapat panggilan dari Sae
Na, kutinggalkan sarapanku begitu saja lalu berlari menuju halte depan sekolah.
Jantungku semakin berdetak kencang, keringat dingin mulai mengiahsi wajah
cemasku. Akhirnya ada bus yang lewat juga, aku buru-buru memasukinya. Sialnya
didalam bus tersebut sangatlah penuh sampai-sampai aku harus berdiri didekat
kursi pengemudi.
Bus yang kunaiki berhennti didepan
rumah sakit umum sekitar. Kurongoh saku rok-ku untuk mengambil beberapa uang
dan memasukannya di sebuah box berukuran sedang didekat pintu keluar. Lankah
kakiku semakin cepat menuju ruang UGD, dan parahnya lagi detak jantung semakin
berdegup kecang serta keringat yang mengucur terlalu banyak seperti orang yang
baru mengikuti lomba lari marathon.
Salah
satu lorong terdapat beberapa orang yang kukenali. Diantaranya Sae Na yang
masih menangis disebelahnya ada Se Hun yang masih berusaha menenangkanya, So
Jung, Sung Ri dan Hee Byul terisak pelan, dan sisanya yaitu Edison, Kyung Soo,
dan Hwang Joong diam di dekat pintu operasi.
Melihat
kedatanganku Sae Na tiba-tiba memelukku sangat erat dan parahnya lagi
tangisannya tambah keras. Pelukkannya tambah lama makin erat membuatku sesak
nafas. “ M-mian Se Young-ah a-aku tidak dapat menyelematkan nyawa Baek So-ssi”
katanya membuat air mataku mengalir membentuk anak sungai.
Ku
lepaskan pelukkannya dengan paksa lalu berlari menuju pintu operasi. Aku sudah
tak tahan lagi, sakit ini makin menjalar keseluruh tubuh. Hwang Joong
menahanku, aku berusaha melepaskanya namun cengkramanya malah membuat tanganku
memerah dengan cepat.
“
Pabbo, jika kau ingin bertemu denganya jangan sekarang, didalam sana masih ada
umma Baek So-ssi dan beberapa perawat” kata Hwang Joong santai. Aku menatapnya
dengan kesal.
“
Seharusnya aku yang bilang pabbo. Kau! Kau tidak punya perasaan sama sekali.
Bagaimana bisa tuhan menciptakan manusia sepertimu?. Apa kau tak punya otak
hah?” caciku yang benar-benar marah terhadap orang dihadapanku ini.
BUK.
Hwang
Jong meninju pipi kananku hingga aku terpental. Sae Na, So Jung, Hee Byul, dan
Sung Ri menolongku sedangkan yang lain menggeret Hwang Joong keluar. Sae Na
menuntunku ke tempat duduk lalu memberiku sebotol minuman dingin.
><
Pintu ruang operasi terbuka dan menampilkan para perawat
keluar sambil mendorong kereta tempat tidur yang diatasnya terbaring lemah
dengan wajah pucat. Umma Baek So tampak di bopong seorang perawat karena
pingsan.
Se Young berjalan mendekat dan melihat kondisi fisik yang
sudah tidak dapat dikenalinya. Senyumannya, kacamata hitam, tawanya semua sirna
sudah. Se Young menangis dengan keras sehingga dia harus di geret paksa oleh
teman-temannya untuk menjauh dari jasad Baek So.
><
Hitam. Hari ini adalah hari terakhir bagi semua orang
bertemu dengan Baek So walaupun sebenarnya Baek So tidak dapat merasakan
orang-orang disekitarnya. Teman-teman, keluarga, bahkan sahabat dari
kecilnyapun ikut datang di hari pemakaman.
Se Young memakai dress hitam selutut dan terdapat pita
kecil bewarna putih di bagian bawah dress tersebut. Wajahnya masih dihiasi
airmata yang daritadi mengalir terus menerus. Tangannya terdapat sebuah surat
kecil yang sudah lusuh, surat pertama yang diberikan Baek So kepada Se Young
saat mereka masih duduk dibangku taman kanak-kanak.
Perlahan-lahan para tamu mulai meninggalkan pemakaman,
dan hanya tersisa Se Young seorang. “ Baek So-ah wae? Wae? Kau pergi
meninggalkanku secepat ini?” Tanya Se Young sambil mengelus-elus batu nisan
yang tercantum nama sahabat semasa kecilnya.
Hanya semilir angin yang menyahut perkataan Se Young.
Udara musim dingin menusuk pori-pori kulitnya. Beberapa helar rambutnya juga
ikut melayang tersapu angin. Untuk yang keberapa kalinya air mata itu terus
meluncur dari matanya.
TUK TUK
“ Kupikir kau sudah pulang?” Tanya seseorang di belakang
Se Young. Tanpa menoleh kebelakangpun Se Young sudah tau jika itu suara salah
satu teman sekelasnya.
“ Mau apa kau kemari?” Tanya balik Se Young.
Orang yang berada di belakang Se Young berjalan kesisi
lain makam Baek So. Dia mengenakan setelan hitam-hitam seperti Se Young. Dia
mengulurkan tangan kanannya yang mengenggam selembar kertas lusuh. Se Young
manatap dengan bingung.
“ Aku menemukannya di kolong meja Baek So-ssi ketika
sehari sebelum dia tiada”.
Flashback
on
Hwang Joong POV.
Hari ini aku mendapat hukuman lagi, karena membolos
sewaktu jam pelajaran matematika. Park Seonsaengnim menyuruhku mengerjakan lima
puluh soal matematika di kelas sebelah. Selama aku mengerjakan seonsaengnim
sialan ini malah asik membaca buku ‘ tips-tips mempunyai keturunan sempurna’.
Soal no.1-20 masih
gampang
No21-37 lumayan
No38-40 mulai sulit
No41-45 ini soal gimana
cara hitungnya?
No46-50 Michigo! Aku
menyerah.
Kurang lima nomor lagi aku bisa pulang, sial kertas
hituanganku sudah tidak ada ruang lagi. Ku rogoh kolong meja yang ku tempati
dan menemukan selembar kertas lusuh, kupikir itu contekan namun dugaanku salah.
Beberapa kalimat tidak jelas karena tinta bulpoin itu
luntur terkena air. Ku rogoh lagi kolong mejanya dan menemukan kartu pelajar
siswa. Saat kubaca ternyata itu Baek So-ssi, jadi kuputuskan untuk menyimpanya.
Flashback
end
Se Young menerima selembar kertas tersebut dengan
bergetar. Perlahan tapi pasti dia membuka selembar kertas tersebut dengan
hati-hati kemudian membacanya dengan teliti.
Masih
lamakah aku hidup seperti ini?. Appa umma apa kalian tidak menyayangiku?. Aku
benci kalian. Aku hari ini tidak mau pulang, aku lebih memilih tinggal di bar
daripada dirumah. Khamsahamnida.
Se
young mian….
Hanya sampai disitu kata-kata yang dapat dibaca,
selanjutnya tidak dapat dibaca dikarenakan telah terhapus oleh air sehingga
tinta-tintanya luntur. Tampaknya Baek So menangis setelang menulis.
Hwang joong menundukkan kepala untuk melihat Se Young
yang masih sibuk dengan tangisanya. Pandanganya beralih kearah makam Baek So
dengan bunga-bunga yang disenderkan di batu nisanya.
Dia melepaskan jaketnya dan melemparkanyanya ke Se Young.
“ Bodoh, diudara yang sedingin ini kau hanya memakai dress tanpa lengan”. Se
Young tidak menanggapi perkataan Hwang Joong.
“ Cepat pakai lalu pulang sana!” perintah Hwang Joong
lalu berlalu pergi. “ Jangan lupa kau cuci” lanjutnya kemudian menghilang dari
pemakaman.
><
Tiga hari kemudian…
“ Pilihanku memang tepat!” teriak Sae Na bangga. Pasalnya
seragam pink pilhanynya memang pantas dipakai oleh teman-temannya. Sung Ri dari
tadi sibuk menyisir rambutnya hanya tersenyum simpul.
Kali ini para pengurus lomba sedang berkumpul di ruang
OSIS. Jarum pendek masih menunjukan angka lima yang pastinya sekolah masih
sangat amat sepi. Tampak hanya ruang OSIS saja yang ramai.
Edison sedang memeriksa berkas-berkas, Se Hun bermain
tab, Kyung Soo membaca buku tebal entah apa isisnya, sedangkan para perempuan
masih sibuk berdandan. Mereka semua sedang menunggu Hwang Joong yang dari tadi
belum menampkan batang hidungnya, kata Hee Byul sepupunya tersebut ada urusan
mendadak sejak dini hari.
Sae Na sibuk menghubungi Hwang Joong, dan akhirnya dijawab
juga setelah sekian lama dia mencoba menghubunginya.
“ Yoboseyo?”
“Yoboseyo”
“ Kau dimana? Cepat kesekolah!”
“
Aku baru sampai rumah dan ingin tidur”
“ Tidak ada penolakaan
sekarang juga atau Edison akan memberitaumu ke Cha Ra Seonsaengnim”
“
Ne, aku segera kesana”
Setelah sambungan terputus mereka semua sarapan bersama.
“ Hwang Joong masih belum bisa dihubungi?” Tanya Edison di
sela-sela makan roti isi selai cokelat kesukaanya.
“ Dia bilang sebentar lagi dia akan datang” jawab Sae Na
disusul dengan ketukkan pintu. Semua orang langsung menolehkan kepala mereka.
Disana tampak seseorang yang sadari dari tadi yang dinggu mereka berdiri dengan
keadaan kacau.
Rambutnya acak-acakan, Kantung mata hitam legam, wajah
pucat pasi, tubuhnya yang kurus memakai piyama hitam serta kakinya yang tidak
beralaskan apapun. So Jung langsung berteriak histeris ala film horror pada
waktu hantunya muncul.
“ Darimana saja kau?” Tanya Edison dengan nada
mengitimidasi. Hwang Joong dengan tidak sopannya menguap lebar dan menatap teman-temannya
bergantian.
“ Bukan urusanmu” jawabnya.
“ Twins, kau tidak mengganti pakaianmu?” kali ini So Jung
angkat suara.
“ Sudah kubilang aku ingin tidur saat ini juga, lagian
seragam pink menjijikan itu sudah aku buang” jawab Hwang Joong kalem yang masih
setia bersender di samping pintu masuk.
“ Apa kau bilang? Kau membuang seragam itu? CEPAT
SEKARANG KAU CARI SERAGAM ITU LALU MEMAKAINYA SEKARANG JUGA!, JIKA TIDAK KAU
AKAN KULAPORKAN CHA-RA SEONSAENGNIM” teriak Sae Na marah kemudian mendorong
tubuh Hwang Joong sehingga terjungkal kebelakang.
Semua yang berda disitu hanya cengo. Hwang Joong berdiri
dang hendak meninju pipi kanan Sae Na namu usahanya gagal karena lengannya kini
di cengkram erat oleh Se Hun.
“Cih..” guman Hwang Joong sambil melepakasn cengkraman
tersebut lalu pergi meninggalkan tempat kejadian.
Se Hun mengelus rambut lurus Sae Na dengan pelan lalu
memeluk tubuh mungilnya.
“ Uljima, Hwang joong-ssi pasti akan memakai seragam
pilihanmu” katanya seraya menghapus jejak-jejak air mata Sae Na. Muka Sae Na
tampak bersemu yang membuatnya makin imut. Karena tidak tahan lagi, Se Hun
mencubit kedua pipi yeoja dihadapannya dengan gemas.
“ Auw” rintih Sae Na.
“
Mian, habis kau lucu kalau sedang malu” kata Se Hun yang makin membuat wajah Sae Na
semerah tomat.
Selesai
Chap 9B. Maafkan saya karena updatenya sangat amat lama soalnya kondisi yang
sangat sibuk. Terimakasih sudah mau nunggu chap selanjutnya. Bye
Chap
10 Coming Soon~
0 komentar:
Posting Komentar