Sabtu, 29 November 2014

Crazy Dreams Come True Chap9 (B)

Diposting oleh zahra natasya di 23.51
Perhatian:
Dilarang copas cerita ini
Maafkan saya yang updatenya lama banget.
Maaf jika ini cerita tidak memuaskan para pembaca.
Maaf jika ada kesalahan kata
Berikan COMENT setelah membaca
Gomawo/xie-xie/arigatou/terimakasih
Se Young POV.
            Setelah mendapat panggilan dari Sae Na, kutinggalkan sarapanku begitu saja lalu berlari menuju halte depan sekolah. Jantungku semakin berdetak kencang, keringat dingin mulai mengiahsi wajah cemasku. Akhirnya ada bus yang lewat juga, aku buru-buru memasukinya. Sialnya didalam bus tersebut sangatlah penuh sampai-sampai aku harus berdiri didekat kursi pengemudi.
            Bus yang kunaiki berhennti didepan rumah sakit umum sekitar. Kurongoh saku rok-ku untuk mengambil beberapa uang dan memasukannya di sebuah box berukuran sedang didekat pintu keluar. Lankah kakiku semakin cepat menuju ruang UGD, dan parahnya lagi detak jantung semakin berdegup kecang serta keringat yang mengucur terlalu banyak seperti orang yang baru mengikuti lomba lari marathon.
            Salah satu lorong terdapat beberapa orang yang kukenali. Diantaranya Sae Na yang masih menangis disebelahnya ada Se Hun yang masih berusaha menenangkanya, So Jung, Sung Ri dan Hee Byul terisak pelan, dan sisanya yaitu Edison, Kyung Soo, dan Hwang Joong diam di dekat pintu operasi.
            Melihat kedatanganku Sae Na tiba-tiba memelukku sangat erat dan parahnya lagi tangisannya tambah keras. Pelukkannya tambah lama makin erat membuatku sesak nafas. “ M-mian Se Young-ah a-aku tidak dapat menyelematkan nyawa Baek So-ssi” katanya membuat air mataku mengalir membentuk anak sungai.
            Ku lepaskan pelukkannya dengan paksa lalu berlari menuju pintu operasi. Aku sudah tak tahan lagi, sakit ini makin menjalar keseluruh tubuh. Hwang Joong menahanku, aku berusaha melepaskanya namun cengkramanya malah membuat tanganku memerah dengan cepat.
            “ Pabbo, jika kau ingin bertemu denganya jangan sekarang, didalam sana masih ada umma Baek So-ssi dan beberapa perawat” kata Hwang Joong santai. Aku menatapnya dengan kesal.
            “ Seharusnya aku yang bilang pabbo. Kau! Kau tidak punya perasaan sama sekali. Bagaimana bisa tuhan menciptakan manusia sepertimu?. Apa kau tak punya otak hah?” caciku yang benar-benar marah terhadap orang dihadapanku ini.
BUK.
            Hwang Jong meninju pipi kananku hingga aku terpental. Sae Na, So Jung, Hee Byul, dan Sung Ri menolongku sedangkan yang lain menggeret Hwang Joong keluar. Sae Na menuntunku ke tempat duduk lalu memberiku sebotol minuman dingin.
>< 
            Pintu ruang operasi terbuka dan menampilkan para perawat keluar sambil mendorong kereta tempat tidur yang diatasnya terbaring lemah dengan wajah pucat. Umma Baek So tampak di bopong seorang perawat karena pingsan.
            Se Young berjalan mendekat dan melihat kondisi fisik yang sudah tidak dapat dikenalinya. Senyumannya, kacamata hitam, tawanya semua sirna sudah. Se Young menangis dengan keras sehingga dia harus di geret paksa oleh teman-temannya untuk menjauh dari jasad Baek So.
>< 
            Hitam. Hari ini adalah hari terakhir bagi semua orang bertemu dengan Baek So walaupun sebenarnya Baek So tidak dapat merasakan orang-orang disekitarnya. Teman-teman, keluarga, bahkan sahabat dari kecilnyapun ikut datang di hari pemakaman.
            Se Young memakai dress hitam selutut dan terdapat pita kecil bewarna putih di bagian bawah dress tersebut. Wajahnya masih dihiasi airmata yang daritadi mengalir terus menerus. Tangannya terdapat sebuah surat kecil yang sudah lusuh, surat pertama yang diberikan Baek So kepada Se Young saat mereka masih duduk dibangku taman kanak-kanak.
            Perlahan-lahan para tamu mulai meninggalkan pemakaman, dan hanya tersisa Se Young seorang. “ Baek So-ah wae? Wae? Kau pergi meninggalkanku secepat ini?” Tanya Se Young sambil mengelus-elus batu nisan yang tercantum nama sahabat semasa kecilnya.
            Hanya semilir angin yang menyahut perkataan Se Young. Udara musim dingin menusuk pori-pori kulitnya. Beberapa helar rambutnya juga ikut melayang tersapu angin. Untuk yang keberapa kalinya air mata itu terus meluncur dari matanya.
TUK TUK
            “ Kupikir kau sudah pulang?” Tanya seseorang di belakang Se Young. Tanpa menoleh kebelakangpun Se Young sudah tau jika itu suara salah satu teman sekelasnya.
            “ Mau apa kau kemari?” Tanya balik Se Young.
            Orang yang berada di belakang Se Young berjalan kesisi lain makam Baek So. Dia mengenakan setelan hitam-hitam seperti Se Young. Dia mengulurkan tangan kanannya yang mengenggam selembar kertas lusuh. Se Young manatap dengan bingung.
            “ Aku menemukannya di kolong meja Baek So-ssi ketika sehari sebelum dia tiada”.
Flashback on
Hwang Joong POV.
            Hari ini aku mendapat hukuman lagi, karena membolos sewaktu jam pelajaran matematika. Park Seonsaengnim menyuruhku mengerjakan lima puluh soal matematika di kelas sebelah. Selama aku mengerjakan seonsaengnim sialan ini malah asik membaca buku ‘ tips-tips mempunyai keturunan sempurna’.
Soal no.1-20 masih gampang
No21-37 lumayan
No38-40 mulai sulit
No41-45 ini soal gimana cara hitungnya?
No46-50 Michigo! Aku menyerah.
            Kurang lima nomor lagi aku bisa pulang, sial kertas hituanganku sudah tidak ada ruang lagi. Ku rogoh kolong meja yang ku tempati dan menemukan selembar kertas lusuh, kupikir itu contekan namun dugaanku salah.
            Beberapa kalimat tidak jelas karena tinta bulpoin itu luntur terkena air. Ku rogoh lagi kolong mejanya dan menemukan kartu pelajar siswa. Saat kubaca ternyata itu Baek So-ssi, jadi kuputuskan untuk menyimpanya.
Flashback end
            Se Young menerima selembar kertas tersebut dengan bergetar. Perlahan tapi pasti dia membuka selembar kertas tersebut dengan hati-hati kemudian membacanya dengan teliti.
Masih lamakah aku hidup seperti ini?. Appa umma apa kalian tidak menyayangiku?. Aku benci kalian. Aku hari ini tidak mau pulang, aku lebih memilih tinggal di bar daripada dirumah. Khamsahamnida.
Se young mian….
            Hanya sampai disitu kata-kata yang dapat dibaca, selanjutnya tidak dapat dibaca dikarenakan telah terhapus oleh air sehingga tinta-tintanya luntur. Tampaknya Baek So menangis setelang menulis.
            Hwang joong menundukkan kepala untuk melihat Se Young yang masih sibuk dengan tangisanya. Pandanganya beralih kearah makam Baek So dengan bunga-bunga yang disenderkan di batu nisanya.
            Dia melepaskan jaketnya dan melemparkanyanya ke Se Young. “ Bodoh, diudara yang sedingin ini kau hanya memakai dress tanpa lengan”. Se Young tidak menanggapi perkataan Hwang Joong.
            “ Cepat pakai lalu pulang sana!” perintah Hwang Joong lalu berlalu pergi. “ Jangan lupa kau cuci” lanjutnya kemudian menghilang dari pemakaman.
>< 
Tiga hari kemudian…
            “ Pilihanku memang tepat!” teriak Sae Na bangga. Pasalnya seragam pink pilhanynya memang pantas dipakai oleh teman-temannya. Sung Ri dari tadi sibuk menyisir rambutnya hanya tersenyum simpul.
            Kali ini para pengurus lomba sedang berkumpul di ruang OSIS. Jarum pendek masih menunjukan angka lima yang pastinya sekolah masih sangat amat sepi. Tampak hanya ruang OSIS saja yang ramai.
            Edison sedang memeriksa berkas-berkas, Se Hun bermain tab, Kyung Soo membaca buku tebal entah apa isisnya, sedangkan para perempuan masih sibuk berdandan. Mereka semua sedang menunggu Hwang Joong yang dari tadi belum menampkan batang hidungnya, kata Hee Byul sepupunya tersebut ada urusan mendadak sejak dini hari.
            Sae Na sibuk menghubungi Hwang Joong, dan akhirnya dijawab juga setelah sekian lama dia mencoba menghubunginya.
“ Yoboseyo?”
“Yoboseyo”
“ Kau dimana? Cepat kesekolah!”
“ Aku baru sampai rumah dan ingin tidur”
“ Tidak ada penolakaan sekarang juga atau Edison akan memberitaumu ke Cha Ra Seonsaengnim”
“ Ne, aku segera kesana”
            Setelah sambungan terputus mereka semua sarapan bersama.
            “ Hwang Joong masih belum bisa dihubungi?” Tanya Edison di sela-sela makan roti isi selai cokelat kesukaanya.
            “ Dia bilang sebentar lagi dia akan datang” jawab Sae Na disusul dengan ketukkan pintu. Semua orang langsung menolehkan kepala mereka. Disana tampak seseorang yang sadari dari tadi yang dinggu mereka berdiri dengan keadaan kacau.
            Rambutnya acak-acakan, Kantung mata hitam legam, wajah pucat pasi, tubuhnya yang kurus memakai piyama hitam serta kakinya yang tidak beralaskan apapun. So Jung langsung berteriak histeris ala film horror pada waktu hantunya muncul.
            “ Darimana saja kau?” Tanya Edison dengan nada mengitimidasi. Hwang Joong dengan tidak sopannya menguap lebar dan menatap teman-temannya bergantian.
            “ Bukan urusanmu” jawabnya.
            “ Twins, kau tidak mengganti pakaianmu?” kali ini So Jung angkat suara.
            “ Sudah kubilang aku ingin tidur saat ini juga, lagian seragam pink menjijikan itu sudah aku buang” jawab Hwang Joong kalem yang masih setia bersender di samping pintu masuk.
            “ Apa kau bilang? Kau membuang seragam itu? CEPAT SEKARANG KAU CARI SERAGAM ITU LALU MEMAKAINYA SEKARANG JUGA!, JIKA TIDAK KAU AKAN KULAPORKAN CHA-RA SEONSAENGNIM” teriak Sae Na marah kemudian mendorong tubuh Hwang Joong sehingga terjungkal kebelakang.
            Semua yang berda disitu hanya cengo. Hwang Joong berdiri dang hendak meninju pipi kanan Sae Na namu usahanya gagal karena lengannya kini di cengkram erat oleh Se Hun.
            “Cih..” guman Hwang Joong sambil melepakasn cengkraman tersebut lalu pergi meninggalkan tempat kejadian.
            Se Hun mengelus rambut lurus Sae Na dengan pelan lalu memeluk tubuh mungilnya.
            “ Uljima, Hwang joong-ssi pasti akan memakai seragam pilihanmu” katanya seraya menghapus jejak-jejak air mata Sae Na. Muka Sae Na tampak bersemu yang membuatnya makin imut. Karena tidak tahan lagi, Se Hun mencubit kedua pipi yeoja dihadapannya dengan gemas.
            “ Auw” rintih Sae Na.
“ Mian, habis kau lucu kalau sedang malu”  kata Se Hun yang makin membuat wajah Sae Na semerah tomat.

Selesai Chap 9B. Maafkan saya karena updatenya sangat amat lama soalnya kondisi yang sangat sibuk. Terimakasih sudah mau nunggu chap selanjutnya. Bye

Chap 10 Coming Soon~

0 komentar:

Posting Komentar

 

Zara's Blog Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei