Perhatian:
Jika ada kesalahan kata saya minta maaf sebesar-besarnya.
Ini bukan TRUE STORY.
Ini hasil imajinasi burukku.
Happy Reading^^
>
>
>
>
“ Bukanya itu Se Hun? Dia sudah
punya anak?” tanya Hwang Joong yang sialnya bisa didengar oleh Se Hun. Se Hun
menghampiri kedua yeoja yang berdiri tak jauh darinya.
“ Kalian yang tadi bukan? Sedang
ingin makan ice-cream? Bagaimana jika gabung denganku?” saran Se Hun.
Sae Na yang mendengar itu langsung
mengeluarkan mata berbinar. “ Baiklah, lagi pula disini lumayan penuh jadi
terimakasih” jawab Hwang Joong yang lungsung menuju ke tempat Se Hun dan duduk
di sebelah anak laki-laki berumur sekitar lima tahun.
Tangan Se Hun menarik lengan kanan
Sae Na. Tanpa sadar muncul semburat merah di kedua pipi Sae Na.
>.<
So Jung melangkahkan kakinya menuju
taman kota. Kedua telinganya terpasang headset
yang langsung tersambung ke mp3 player. Dia merapatkan jas sekolahnya
karena suhu udara mulai dingin.
“ Hei!” teriak seseorang di
belakang. Karena So Jung menyetel music terlalu keras dia tidak mendengar
teriakan tersebut. Sampai-sampai sebuah tangan menepuk bahunya. So Jung
menghadapkan badanya ke belakang dan mendapati pemuda berseragam basket.
“ Kau Han So Jung bukan?” tanya
pemuda tersebut. So Jung hanya mengangkat sebelah alisnya dan menganggukan
kepala.
“ Apa kau melupakanku? Aku temanmu
sewaktu les piano dulu”.
“ Heh? Aku sama sekali tak
mengingatmu”
“ Namaku Jeon Jung Kook, oh aku
sudah terlambat semoga kita bisa bertemu lagi Han So Jung” pamit pemuda
tersebut yang mulai berlari meninggalkan So Jung yang cengo.
“ Jeon Jung Kook? Les piano?”.
>.<
“ Jadi ini adikmu? Ku pikir bocah
ini anakmu” kata Hwang Joong.
“ Dasar pabbo! Kau pikir aku mau
membuat anak saat SMA” jawab Se Hun sambil menjitak kepala Hwang joong. “
Kupikir kita harus berkenalan, namaku Oh Se Hun salam kenal” lanjutnya.
“ Aku Oh Sae Na salam kenal” kata
Sae Na sambil tersenyum.
“ Aku Hwang Joong” sekarang Hwang
Joong yang memperkenalkan diri.
“ Aku sudah tahu namamu si pengacau
sekolah yang kerjaanya tidur saat pelajaran, menaruh permen karet di kursi guru
bahkan sudah membuat adik kelas pindah sekolah”
terang Se Hun dengan wajah mengejek.
“
Tak kusangka aku sepopuler itu? Well
kau lumayan mengikuti info-info tentangku” jawab Hwang Joong tanpa merasa
bersalah sedikitpun.
“ Oppa kenapa oppa memakai rok?”
tanya sang dongsaeng Se Hun dengan polos.
“ Aku seorang yeoja bocah!” balas
Hwang Joong kesal. Sedangkan Se Hun dan Sae Na hanya tertawa melihat sikap
teman yang berstatus ‘pengacau sekolah’ berdebat dengan anak berumur lima
tahun.
>.<
Se Young baru saja membersihkan
dirinya. Yeoja berwajah cantik tersebut melangkahkan kakinya menuju dapur untuk
membantu eomma-nya yang sedang memasak makan malam.
“Eomma, apa perlu bantuan?” tanya Se Young.
“ Tentu, tolong kau cuci sayurannya
oemma akan memasak soup” jawab Ny.Park yang masih berkutat dengan pisau.
Sambil mencuci sayuran Se Young
mencoba mengumpulkan keberanian untuk menceritakan masalah pribadinya ke eomma-nya.
“ Oemma, aku ingin bertanya?”.
“Tentu”
“Mmm, begini oemma jika eomma
menyukai laki-laki tapi oemma tak mau mengakuinya karena laki-laki tersebut
adalah sahabat eomma lama dan oemma tidak mau menghancurkan persahabatan
tersebut. Apa yang akan eomma lakukan?”.
Ny. Park membulatkan kedua matanya
dan menghentikan aktifitas memotong bawang. Dia menghampiri sang anak sulung
yang berdiri tak jauh darinya sambil menundukkan kepala. Tanganya mencoba
mengelus rambut Se Young yang tampak lembut.
“ Anak eomma sudah besar rupanya?
Menurut oemma tak salah jika mencobanya terlebih dahulu, tapi lebih baik focus
belajar dulu kalau urasan seperti itu bisa di pikirkan lain kali” jawan Ny.Park
dengan senyumannya.
“Kamsahamnida oemma” jawab Se Young yang langsung memeluk Ny.Park dengan erat.
>.<
Nada dering hp Hwang Joong berbunyi
dan menyebabkan seluruh pengunjung café menatap ke arah sumber suara tersebut
karena menurut mereka itu sangat mengganggu. Hwang Joong mengeluarkan hp-nya
dari saku jas sekolah dan mendekatkan ke arah telinga kanan.
“
Yoboseyo? Ada apa?” tanya Hwang Joong langsung.
“
Kau kemana aja pabbo! Aku sudah menunggumu di tempat les jangan-jangan kau
kabur lagi? Ayolah Kim Hwang Joong kau sudah berapa kali membolos?” omel
seseorang yang ada di seberang sana.
“ Hn, oppa aku sedang makan
ice-cream bersama temanku dan seharusnya aku yang bilang pabbo my stupid brother”
“
ok! Up to you my sister so, back to home now!”
Hwang Joong mematikan hp-nya dan
beranjak berdiri. Sae Na yang melihat teman sebangkunya berdiri langsung
mengerutkan dahi.
“ Ok! Sepertinya aku harus pamit
dulu karena entah mengapa dengan tiba-tiba Joong Hyun oppa menelponku dengan
teriakan mautnya” pamit Hwang Joong yang langsung mendapat tak terima dari Sae
Na. Buru-buru Sae Na menarik lengan teman sebangkunya yang dengan seenak
jidatnya mau meninggalkannya sendiri.
“ Wae? Cepat lepaskan tanganmu!”
perintah Hwang Joong.
“ Kau ingin meninggalkanku
sendirian?”.
“ Kan masih ada Se Hun itu tandanya
kau tidak sendirian”
“ Tapi__” belum sempat Sae Na
menyelesaikan protesanya Se Hun tiba-tiba memotong ucapanya. “ Kau akan kuantar
pulang, jadi tak perlu khawatir jika kau takut pulang sendirian. Dan kau cepat
temui oppamu cemas”.
Hwang Joong hanya nyengir saat Se
Hun mengucapkan kata terakhir yang membuatnya jijik. Ayolah Kim Joong Hyun
seorang pria berumur dua puluh tahun cemas terhadapnya?. Sejak kecil dulu mereka
berdua tidak pernah akur sama sekali, pernah sewaktu itu Joong Hyun saking
jengkelnya terhadap Hwang Joong sampai-sampai berniat untuk membunuh sang adik.
“ Nah, kalau begitu aku pamit dulu
selamat bersenang-senang!”.
Sepeninggalan Hwang Joong suasana
menjadi jauh lebih canggung. Sae Na dan Se Hun masih berkutat dengan pikiran
masing-masing sampai akhirnya sang Dongsaeng
mengajak pulang.
>.<
So
Jung melemparkan tas ranselnya ke sembarang tempat. Tujuan utamanya hanya satu
yaitu membuka akun media socialnya dan membuat berbagai macam status, komentar,
dan bahkan menyebar foto-foto selfienya.
Laptop
berwarna putih yang menjadi temanya sejak lima tahun yang lalu sudah di siapkan
di atas kasur empuk. Sambil menunggu laptop tersebut menyala, So Jung
menggantai pakaian seragam dengan kaos bergambar kartun dan celana pendek
selutut. Rambutnya dia ikat kuda agar tidak gerah.
Ac
dikamarnya sudah membuat udara menjadi lebih sejuk. Dan akhirnya sekarang
waktunya untuk bersantai ala the queen of
update.
“ Les piano? Kapan? Siapa? Aku sama sekali tak mengingatnya” itu salah satu status yang di buat di akun
path milik So Jung. Tapi malam hari ini So Jung tak akan membuka salah satu
buku pelajarannya karena masih sibuk mengingat kapan dia pernah mengikuti les
piano.
“
Lebih baik aku tanyakan saja pada eomma besok pagi” gumanya sambil perlahan
memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi.
>.<
Sepanjang
perjalanan Sae Na dan Se Hun menjadi pusat perhatian semua orang. Yah, bagaimana tidak menjadi pusat
perhatian jika kau melihat dua orang remaja sedang berjalan bersama dan oh
tunggu dulu ternyata sang pria menggedong bocah lucu di pundaknya, sebuah
keluarga kecil yang manis pikir semua orang.
“
Kau merasa terganggu dengan tatapan mereka?” akhirnya Se Hun bertanya juga akan
hal itu.
Sae
Na yang masih menundukkan kepalanya hanya mendongak dan menganggukan kepala.
Menurut Se Hun itu adalah hal manis yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
“
Biarkan saja mereka, rumahmu yang itu bukan?”.
Sejak
kapan Se Hun mengetahui rumahnya? Bahkan tadi saja Sae Na tidak memberitahunya.
Apa jangan-jangan Se Hun seperti Sung Ri si stalker
nekat? Tapi mana mungkin si pria albino ini seperti itu?.
“
Hei kau melamun?” tanya Se Hun yang membuat Sae Na kembali kea lam sadar.
“
Ah ya! Kamsahamnida Se Hunna telah mengantarku
sampai ke rumah” ucap Sae Na sambil membungkukkan badan.
“
Tak perlu se formal itu, kalau begitu selamat beristirahat” jawab Se Hun dengan
tersenyum dan mulai menjauhi Sae Na.
“
Sampai jumpa nunna!” teriak Oh Se In alias adik Se Hun.
Aku
harus berterimakasih pada Hwang Joong karena telah meninggalkanku, pikir Sae Na
gembira.
Akhirnya
chap3 selesai juga!. Maaf baru update sekarang karena aku harus mengahadapi
berbagai obat dalam beberapa hari belakangan ini. Ini cerita absurd banget,
entah kenapa muncul tiba-tiba di otakku?. Jadi ini murni dari khayalan
absurdku. Ini bukan true story kawan!.
Chap4 coming soon!
0 komentar:
Posting Komentar