Rabu, 10 September 2014

Crazy Dreams Come True chap3

Diposting oleh zahra natasya di 05.04
Perhatian:
Jika ada kesalahan kata saya minta maaf sebesar-besarnya.
Ini bukan TRUE STORY.
Ini hasil imajinasi burukku.
Happy Reading^^
>
>
            “ Bukanya itu Se Hun? Dia sudah punya anak?” tanya Hwang Joong yang sialnya bisa didengar oleh Se Hun. Se Hun menghampiri kedua yeoja yang berdiri tak jauh darinya.
            “ Kalian yang tadi bukan? Sedang ingin makan ice-cream? Bagaimana jika gabung denganku?” saran Se Hun.
            Sae Na yang mendengar itu langsung mengeluarkan mata berbinar. “ Baiklah, lagi pula disini lumayan penuh jadi terimakasih” jawab Hwang Joong yang lungsung menuju ke tempat Se Hun dan duduk di sebelah anak laki-laki berumur sekitar lima tahun.
            Tangan Se Hun menarik lengan kanan Sae Na. Tanpa sadar muncul semburat merah di kedua pipi Sae Na.
                                                                        >.<
            So Jung melangkahkan kakinya menuju taman kota. Kedua telinganya terpasang headset yang langsung tersambung ke mp3 player. Dia merapatkan jas sekolahnya karena suhu udara mulai dingin.
            “ Hei!” teriak seseorang di belakang. Karena So Jung menyetel music terlalu keras dia tidak mendengar teriakan tersebut. Sampai-sampai sebuah tangan menepuk bahunya. So Jung menghadapkan badanya ke belakang dan mendapati pemuda berseragam basket.
            “ Kau Han So Jung bukan?” tanya pemuda tersebut. So Jung hanya mengangkat sebelah alisnya dan menganggukan kepala.
            “ Apa kau melupakanku? Aku temanmu sewaktu les piano dulu”.
            “ Heh? Aku sama sekali tak mengingatmu”
            “ Namaku Jeon Jung Kook, oh aku sudah terlambat semoga kita bisa bertemu lagi Han So Jung” pamit pemuda tersebut yang mulai berlari meninggalkan So Jung yang cengo.
            “ Jeon Jung Kook? Les piano?”.
                                                                        >.<
            “ Jadi ini adikmu? Ku pikir bocah ini anakmu” kata Hwang Joong.
            “ Dasar pabbo! Kau pikir aku mau membuat anak saat SMA” jawab Se Hun sambil menjitak kepala Hwang joong. “ Kupikir kita harus berkenalan, namaku Oh Se Hun salam kenal” lanjutnya.
            “ Aku Oh Sae Na salam kenal” kata Sae Na sambil tersenyum.
            “ Aku Hwang Joong” sekarang Hwang Joong yang memperkenalkan diri.
            “ Aku sudah tahu namamu si pengacau sekolah yang kerjaanya tidur saat pelajaran, menaruh permen karet di kursi guru bahkan sudah membuat adik kelas pindah sekolah”  terang Se Hun dengan wajah mengejek.
            “ Tak kusangka aku sepopuler itu? Well kau lumayan mengikuti info-info tentangku” jawab Hwang Joong tanpa merasa bersalah sedikitpun.
            “ Oppa kenapa oppa memakai rok?” tanya sang dongsaeng Se Hun dengan polos.
            “ Aku seorang yeoja bocah!” balas Hwang Joong kesal. Sedangkan Se Hun dan Sae Na hanya tertawa melihat sikap teman yang berstatus ‘pengacau sekolah’ berdebat dengan anak berumur lima tahun.
                                                                        >.<
            Se Young baru saja membersihkan dirinya. Yeoja berwajah cantik tersebut melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membantu eomma-nya yang sedang memasak makan malam.
            “Eomma, apa perlu bantuan?” tanya Se Young.
            “ Tentu, tolong kau cuci sayurannya oemma akan memasak soup” jawab Ny.Park yang masih berkutat dengan pisau.
            Sambil mencuci sayuran Se Young mencoba mengumpulkan keberanian untuk menceritakan masalah pribadinya ke eomma-nya. “ Oemma, aku ingin bertanya?”.
            “Tentu”
            “Mmm, begini oemma jika eomma menyukai laki-laki tapi oemma tak mau mengakuinya karena laki-laki tersebut adalah sahabat eomma lama dan oemma tidak mau menghancurkan persahabatan tersebut. Apa yang akan eomma lakukan?”.
            Ny. Park membulatkan kedua matanya dan menghentikan aktifitas memotong bawang. Dia menghampiri sang anak sulung yang berdiri tak jauh darinya sambil menundukkan kepala. Tanganya mencoba mengelus rambut Se Young yang tampak lembut.
            “ Anak eomma sudah besar rupanya? Menurut oemma tak salah jika mencobanya terlebih dahulu, tapi lebih baik focus belajar dulu kalau urasan seperti itu bisa di pikirkan lain kali” jawan Ny.Park dengan senyumannya.
            “Kamsahamnida oemma” jawab Se Young yang langsung memeluk Ny.Park dengan erat.
                                                                    >.<
            Nada dering hp Hwang Joong berbunyi dan menyebabkan seluruh pengunjung cafĂ© menatap ke arah sumber suara tersebut karena menurut mereka itu sangat mengganggu. Hwang Joong mengeluarkan hp-nya dari saku jas sekolah dan mendekatkan ke arah telinga kanan.
“ Yoboseyo? Ada apa?” tanya Hwang Joong langsung.
            “ Kau kemana aja pabbo! Aku sudah menunggumu di tempat les jangan-jangan kau kabur lagi? Ayolah Kim Hwang Joong kau sudah berapa kali membolos?” omel seseorang yang ada di seberang sana.
            “ Hn, oppa aku sedang makan ice-cream bersama temanku dan seharusnya aku yang bilang pabbo my stupid brother
            “ ok! Up to you my sister so, back to home now!”
            Hwang Joong mematikan hp-nya dan beranjak berdiri. Sae Na yang melihat teman sebangkunya berdiri langsung mengerutkan dahi.
            “ Ok! Sepertinya aku harus pamit dulu karena entah mengapa dengan tiba-tiba Joong Hyun oppa menelponku dengan teriakan mautnya” pamit Hwang Joong yang langsung mendapat tak terima dari Sae Na. Buru-buru Sae Na menarik lengan teman sebangkunya yang dengan seenak jidatnya mau meninggalkannya sendiri.
            “ Wae? Cepat lepaskan tanganmu!” perintah Hwang Joong.
            “ Kau ingin meninggalkanku sendirian?”.
            “ Kan masih ada Se Hun itu tandanya kau tidak sendirian”
            “ Tapi__” belum sempat Sae Na menyelesaikan protesanya Se Hun tiba-tiba memotong ucapanya. “ Kau akan kuantar pulang, jadi tak perlu khawatir jika kau takut pulang sendirian. Dan kau cepat temui oppamu cemas”.
            Hwang Joong hanya nyengir saat Se Hun mengucapkan kata terakhir yang membuatnya jijik. Ayolah Kim Joong Hyun seorang pria berumur dua puluh tahun cemas terhadapnya?. Sejak kecil dulu mereka berdua tidak pernah akur sama sekali, pernah sewaktu itu Joong Hyun saking jengkelnya terhadap Hwang Joong sampai-sampai berniat untuk membunuh sang adik.
            “ Nah, kalau begitu aku pamit dulu selamat bersenang-senang!”.
            Sepeninggalan Hwang Joong suasana menjadi jauh lebih canggung. Sae Na dan Se Hun masih berkutat dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya sang Dongsaeng mengajak pulang.
                                                                    >.<
            So Jung melemparkan tas ranselnya ke sembarang tempat. Tujuan utamanya hanya satu yaitu membuka akun media socialnya dan membuat berbagai macam status, komentar, dan bahkan menyebar foto-foto selfienya.
            Laptop berwarna putih yang menjadi temanya sejak lima tahun yang lalu sudah di siapkan di atas kasur empuk. Sambil menunggu laptop tersebut menyala, So Jung menggantai pakaian seragam dengan kaos bergambar kartun dan celana pendek selutut. Rambutnya dia ikat kuda agar tidak gerah.
            Ac dikamarnya sudah membuat udara menjadi lebih sejuk. Dan akhirnya sekarang waktunya untuk bersantai ala the queen of update.
            “ Les piano? Kapan? Siapa? Aku sama sekali tak mengingatnya” itu salah satu status yang di buat di akun path milik So Jung. Tapi malam hari ini So Jung tak akan membuka salah satu buku pelajarannya karena masih sibuk mengingat kapan dia pernah mengikuti les piano.
            “ Lebih baik aku tanyakan saja pada eomma besok pagi” gumanya sambil perlahan memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi.
                                                                   >.<
            Sepanjang perjalanan Sae Na dan Se Hun menjadi pusat perhatian semua orang. Yah, bagaimana tidak menjadi pusat perhatian jika kau melihat dua orang remaja sedang berjalan bersama dan oh tunggu dulu ternyata sang pria menggedong bocah lucu di pundaknya, sebuah keluarga kecil yang manis pikir semua orang.
            “ Kau merasa terganggu dengan tatapan mereka?” akhirnya Se Hun bertanya juga akan hal itu.
            Sae Na yang masih menundukkan kepalanya hanya mendongak dan menganggukan kepala. Menurut Se Hun itu adalah hal manis yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
            “ Biarkan saja mereka, rumahmu yang itu bukan?”.
            Sejak kapan Se Hun mengetahui rumahnya? Bahkan tadi saja Sae Na tidak memberitahunya. Apa jangan-jangan Se Hun seperti Sung Ri si stalker nekat? Tapi mana mungkin si pria albino ini seperti itu?.
            “ Hei kau melamun?” tanya Se Hun yang membuat Sae Na kembali kea lam sadar.
            “ Ah ya! Kamsahamnida Se Hunna telah mengantarku sampai ke rumah” ucap Sae Na sambil membungkukkan badan.
            “ Tak perlu se formal itu, kalau begitu selamat beristirahat” jawab Se Hun dengan tersenyum dan mulai menjauhi Sae Na.
            “ Sampai jumpa nunna!” teriak Oh Se In alias adik Se Hun.
            Aku harus berterimakasih pada Hwang Joong karena telah meninggalkanku, pikir Sae Na gembira.
            Akhirnya chap3 selesai juga!. Maaf baru update sekarang karena aku harus mengahadapi berbagai obat dalam beberapa hari belakangan ini. Ini cerita absurd banget, entah kenapa muncul tiba-tiba di otakku?. Jadi ini murni dari khayalan absurdku. Ini bukan true story kawan!.
Chap4 coming soon!

0 komentar:

Posting Komentar

 

Zara's Blog Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei